BI Sumbar dan Kemenag Edukasi Gerakan ‘Cinta Rupiah’: Literasi Uang untuk Generasi Milenial dan Penguatan Ekonomi Lokal”

BI sumbar dan menag

Pendahuluan: Sinergi BI Sumbar dan Kemenag dalam Literasi Rupiah

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat bersama Kantor Wilayah Kemenag Sumbar meluncurkan program edukasi “Cinta Rupiah” sebagai bagian penting dari Gerakan Nasional Literasi Keuangan. Acara ini diadakan 20 Juni 2025 di Aula Kemenag, dengan 20 peserta terdiri dari Penmad, Kepala Kemenag kabupaten/kota, dan Pengawas Madrasah di wilayah Sumbar. Inisiatif ini bertujuan memperkuat pemahaman nilai dan kedaulatan rupiah, serta mendorong penggunaan uang nasional dalam setiap transaksi.


Fokus Acara Edukasi dan Target Sasaran

Kegiatan ini fokus pada kalangan pendidik agama Islam, sebagai agen perubahan dalam menginternalisasi nilai rupiah ke komunitas sekolah. “BI Sumbar berharap kaum pengajar madrasah dapat memahami bahwa rupiah lebih dari sekadar alat transaksi—melainkan simbol kedaulatan negara,” ujar Kepala BI Sumbar. Peserta diberikan modul “Cinta–Bangga–Paham Rupiah”, mencakup haluan: sejarah rupiah, cetakan dan keamanan suku uang, serta strateginya menghindari pemakaian mata uang asing.


Modul Edukasi: Cinta–Bangga–Paham Rupiah

Materi utama terdiri dari empat pilar:

  • Cinta Rupiah: Aspek emosional dan historis rupiah berkaitan dengan identitas bangsa
  • Bangga Rupiah: Momentum kebanggaan digunakan uang nasional saat transksi
  • Paham Rupiah: Pengetahuan teknis seperti simbol keamanan, desain, dan nilai nominal
  • Literasi Digital: Penggunaan digitalisasi sistem pembayaran (QRIS, e‑Money)

Materi ini sudah diuji coba di SMA Sipora, Mentawai, sejak 2024 dan menjadi metode inisiatif program kurikulum di Sumbar.


Konteks Historis Rupiah sebagai Simbol Kedaulatan

Rupiah resmi diperkenalkan Presiden Soekarno pada 10 Juli 1946, sebagai mata uang dari Republik Indonesia. Penyebarannya menggantikan gulden dan kawin rupiah menjadi lambang kedaulatan keuangan negara.
Setiap lembar rupiah menampilkan pahlawan nasional—seperti Cut Nyak Dien, Tjipto Mangoenkoesoemo—sebagai bentuk penghormatan nilai perjuangan serta karakter bangsa.


Kutipan Pencerah:

“Rupiah itu simpul kedaulatan negara”
“Anak didik kita ajarkan untuk menyimpan mata uang dengan rapi. Mereka harus menghargai uang itu karena ada gambar pahlawan dan garuda pancasila sebagai simbol kedaulatan bangsa”

Pernyataan ini menggarisbawahi nilai moral dan edukatif dari mata uang, khususnya bagi generasi muda dan pelajar.

Wacana Kurikulum dan Pelibatan Milenial

BI mendorong integrasi materi “Cinta–Bangga–Paham Rupiah” ke dalam kurikulum, menyasar jenjang SD hingga SMA. Rencana ini didukung oleh Kemenag dan Dinas Pendidikan Sumbar. Selain pengajar, turut dilibatkan siswa usia 18–50 tahun melalui kampanye daring dan lomba “Duta Rupiah” untuk mengedukasi masyarakat luas .


Program Serupa di Daerah Lain

Konsep serupa pernah diimplementasikan di Mentawai, Banjarmasin, hingga pengajar desa di Sumbar . Dukungan dari BI pusat memperluas program kehadirannya ke daerah terluar, dengan metode berkolaborasi bersama komunitas lokal dan media sosial.


Digitalisasi dan Tantangan Ekonomi Kontemporer

Transformasi digital, seperti QRIS dan layanan nontunai, menuntut pemahaman teknologi. Program “Cinta Rupiah” juga menekankan literasi digital—penggunaan aman uang elektronik dan bahaya penipuan cyber.

Di tengah fluktuasi ekonomi (inflasi 3–4% per tahun) dan ketidakstabilan global, pemahaman ini crucial dalam menjaga stabilitas dengan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rupiah.


Manfaat bagi Masyarakat Muda

  1. Literasi Finansial: Pelajar jadi paham cara hemat, pencatatan pengeluaran, dan antisipasi utang konsumtif.
  2. Identitas Nasional: Membentuk cinta terhadap produk lokal dan menolak transaksi dengan mata uang asing.
  3. Inklusivitas Ekonomi: Digitalisasi keuangan membantu masyarakat terluar bisa akses ke layanan perbankan.
  4. Perlindungan Komunitas: Mencegah penyalahgunaan uang palsu dan transaksi curang lewat edukasi visual & keamanan regional.

Strategi Implementasi Jangka Panjang

Untuk memastikan efektivitas program:

  • SK Bupati/Walikota: Menetapkan pembelajaran Cinta Rupiah dalam kurikulum lokal.
  • Pelatihan Guru & Pengawas: Workshop intensif untuk memastikan pemahaman dan metode pengajaran.
  • Kampanye Digital: Challenge video di media sosial, infografik, dan podcast tentang rupiah di platform populer anak muda.
  • Evaluasi & Publikasi: Memantau dampak melalui survei dan laporan rutin: misalnya Cinta Rupiah dalam Angka oleh BI Sumbar.

Tantangan dan Jalan ke Depan

  • Kesadaran dan Pendanaan: Butuh dukungan APBD dan sumber daya agar modul berjalan masif.
  • Kolaborasi Sektoral: Sinergi dengan BI nasional, Kemenkeu, serta sektor pariwisata dan UMKM agar ekosistem rupiah tumbuh.
  • Adaptasi Era Digital: Integrasi keamanan cyber dalam kurikulum serta pelatihan warganet muda agar tidak rentan penipuan online.

Kesimpulan

Edukasi “Cinta–Bangga–Paham Rupiah” oleh BI Sumbar dan Kemenag menjadi strategi penting di tengah digitalisasi era modern. Gerakan ini tidak hanya menyasar penguat budaya ekonomi dan intelektual negara, tapi juga membentuk generasi milenial dan Z yang cinta identitas nasional. Dengan memadukan pendekatan formal di kurikulum dan kampanye modern digital, masa depan Indonesia dapat semakin berdaulat dan mandiri dalam menghadapi tantangan global.

  • Total page views: 40,610
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor