Bukittinggi – Suara tabuhan tambua menggema di udara, memecah kesunyian malam di pusat Kota Bukittinggi. Perhelatan Festival Tambua Tiga Kota kembali digelar pada Minggu (22/9/2025) malam, menjadi ajang silaturahmi budaya yang mempertemukan tiga daerah sekaligus: Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Limapuluh Kota.
Ribuan masyarakat tumpah ruah di sekitar kawasan Jam Gadang untuk menyaksikan langsung parade budaya ini. Festival yang sudah menjadi agenda tahunan ini tak hanya menampilkan kekompakan pemain tambua, tetapi juga menjadi simbol persaudaraan dan kebersamaan masyarakat Minangkabau.
Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar, menyampaikan rasa bangganya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan wadah untuk memperkuat identitas budaya Minangkabau.
“Festival Tambua Tiga Kota ini menjadi momentum penting bagi kita untuk menjaga dan melestarikan tradisi leluhur. Kegiatan ini juga mempererat hubungan kekerabatan dan semangat gotong royong antar daerah,” ujarnya.
Jejak Sejarah Tambua di Minangkabau
Tambua merupakan alat musik perkusi tradisional Minangkabau yang biasanya dimainkan secara berkelompok. Bunyi hentakan tambua yang ritmis sering digunakan dalam berbagai perayaan adat, mulai dari pernikahan, batagak penghulu, hingga penyambutan tamu kehormatan.
Dalam sejarahnya, tabuhan tambua tidak hanya berfungsi sebagai musik pengiring. Ia juga memiliki nilai simbolis yang dalam: sebagai pemanggil kebersamaan, pengobar semangat perjuangan, sekaligus media komunikasi sosial di tengah masyarakat.
Dengan menggelar festival ini, Bukittinggi dan dua daerah tetangganya berusaha menjaga kesinambungan tradisi agar tidak tergerus modernisasi. Festival menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali alat musik tradisional yang sarat makna ini.
Ajang Persatuan dan Ekonomi Kreatif
Selain sebagai pelestarian budaya, Festival Tambua Tiga Kota juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Ribuan pengunjung yang hadir turut meningkatkan aktivitas UMKM lokal. Pedagang makanan khas, cendera mata, hingga jasa transportasi merasakan manfaat dari ramainya acara tersebut.
Pemerintah Kota Bukittinggi berkomitmen menjadikan festival ini sebagai bagian dari kalender wisata budaya. Dukungan dari masyarakat dan perantau Minang diharapkan dapat memperkuat eksistensi festival agar tetap berlanjut dan berkembang.
“Melalui festival ini, kita berharap generasi muda dapat semakin mencintai budaya sendiri, sekaligus menjadikannya sebagai sumber inspirasi dan kreativitas,” tambah Erman Safar.
Bukittinggi, Kota Pusaka dan Identitas Minang
Sebagai kota dengan sejarah panjang perjuangan bangsa, Bukittinggi selalu identik dengan nilai kebudayaan dan persatuan. Dari masa penjajahan hingga era kemerdekaan, kota ini menjadi pusat pergerakan dan pendidikan.
Festival Tambua Tiga Kota kian mempertegas identitas Bukittinggi sebagai kota pusaka sekaligus kota budaya. Gelaran ini menegaskan bahwa tradisi bukanlah penghalang kemajuan, melainkan fondasi untuk melangkah lebih jauh dalam menghadapi tantangan zaman.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Kehadiran ribuan generasi muda dalam festival ini membuktikan bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan kreativitas, tambua dapat dikolaborasikan dalam berbagai genre musik modern, sehingga tradisi tetap hidup tanpa kehilangan esensinya.
Sebagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam tabuhan tambua, generasi muda diajak untuk terus menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat: bergerak bersama, saling melengkapi, dan bergandengan tangan menuju masa depan yang lebih baik.
Penutup dan Ajakan
Festival Tambua Tiga Kota bukan sekadar pertunjukan musik tradisional. Ia adalah cermin persaudaraan, warisan leluhur, dan pesan moral yang relevan hingga hari ini. Melalui tabuhan tambua, kita diingatkan bahwa kekompakan dan persatuan adalah kekuatan terbesar masyarakat Minangkabau.
Kepada generasi muda, mari kita jaga, lestarikan, dan kembangkan budaya Minang agar tetap hidup di tengah arus globalisasi. Sebab, hanya dengan memahami akar budaya, kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berakar, sekaligus siap menghadapi dunia modern.








