Pemko Bukittinggi Siapkan Penataan Pasa Ateh, Toko Tak Aktif Dialihkan

Pemko Bukittinggi Siapkan Penataan Pasa Ateh

Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi mengambil langkah strategis untuk menata kembali Pasa Ateh (Pasar Atas)—salah satu pusat perdagangan klasik di jantung kota. Langkah ini diambil setelah sejumlah evaluasi menemukan ratusan toko yang tidak aktif beroperasi, yang selama ini dianggap menghambat optimalisasi fungsi pasar serta pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi usaha.

Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias menyatakan bahwa revitalisasi penataan Pasa Ateh menjadi salah satu prioritas pemkot pada awal tahun 2026. Penataan ini tidak hanya mencakup sekadar estetika, tetapi lebih jauh pada regenerasi pelaku usaha, penertiban relasi pedagang, hingga pemanfaatan aset pasar yang lebih produktif.

Dalam sidak yang dilakukan bersama pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD), wali kota menemukan banyak toko yang telah lama tidak digunakan. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi merugikan negara karena toko tetap berdiri tanpa ada aktivitas usaha yang jelas, sementara fasilitas pasar ini terletak di salah satu kawasan dengan lalu lintas pejalan kaki yang tinggi, terutama wisatawan yang datang ke Jam Gadang dan kawasan pusat kota.

“Untuk toko yang tidak digunakan oleh pedagang akan kita segel. Selanjutnya akan kita tawarkan kepada yang berminat, termasuk pedagang kaki lima yang ada di sini,” ujar Wali Kota Ramlan ketika mengevaluasi kondisi pasar.

Langkah tegas ini sekaligus menjawab temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menyoroti banyaknya toko tidak aktif di pasar atas, yang berpotensi menimbulkan kerugian negara bila dibiarkan berlarut-larut tanpa pemanfaatan yang produktif.

Evaluasi Kondisi Pasa Ateh dan Rencana Penataan

Pasa Ateh dikenal sebagai pasar peninggalan sejarah yang telah menjadi bagian dari struktur ekonomi tradisional Bukittinggi selama puluhan tahun. Pasar ini sering dikaitkan dengan sejarah ikon kota seperti Jam Gadang, yang lokasinya berhadapan langsung dengan pusat pasar tersebut.

Namun, setelah kebakaran hebat yang melanda pasar ini beberapa tahun lalu dan proses revitalisasi yang berlangsung dalam beberapa fase, aktivitas perdagangan belum sepenuhnya pulih. Banyak toko yang tidak lagi dioperasikan oleh pemiliknya, meskipun fasilitas fisik telah diperbaiki. Menurut data yang dihimpun, jumlah toko yang tidak aktif mencapai ratusan unit, memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pemanfaatan bangunan pasar.

Dalam penataan ulang ini, Pemko Bukittinggi tengah menyusun skema relokasi dan pemanfaatan ruang yang lebih efektif. Toko kosong akan disegel terlebih dahulu sebelum ditawarkan kepada pihak yang berminat. Termasuk di antaranya adalah pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berjualan di luar gedung pasar. Tawaran ini juga memberi peluang bagi PKL untuk naik kelas dengan berdagang di ruang tertutup yang lebih representatif dan ramah wisatawan.

Pemberdayaan Pedagang dan Sistem Retribusi yang Jelas

Selain pengalihan toko tidak aktif, Pemko juga menekankan pentingnya sistem retribusi yang jelas dan transparan. Menurut Wali Kota, seluruh pendapatan dari sewa kios maupun parkir harus tercatat dan masuk ke kas daerah agar pasar ini benar-benar menjadi kontributor PAD yang optimal. Pemungutan liar (pungli) maupun praktik ilegal lainnya tidak akan ditoleransi.

Menindaklanjuti hal ini, pemerintah telah memerintahkan dinas terkait untuk memperkenalkan sistem pembayaran modern seperti e-money di area pasar, sehingga pembukuan sewa dan retribusi pasar dapat dilakukan secara efisien dan tercatat. Hal ini diharapkan akan mengurangi celah praktik ilegal dan meningkatkan kepercayaan pedagang terhadap sistem yang berlaku.

Tanggapan Pedagang dan Ketidakpuasan Relokasi

Proses penataan pasar tidak serta-merta diterima seluruh komunitas pedagang tanpa tantangan. Sejumlah kelompok pedagang kaki lima (PKL) yang tergabung dalam organisasi lokal seperti P2KL (Persatuan Pedagang Kaki Lima) dan P2WB (Perkumpulan Pedagang Wisata Bukittinggi) menyampaikan keberatan atas rencana relokasi mereka ke area yang dianggap “kurang strategis.”

Para pedagang menilai lokasi relokasi yang diusulkan, seperti lantai tiga atau lantai empat gedung pasar, tidak menawarkan akses yang sama dengan area berjualan sebelumnya di bagian luar pasar yang ramai pengunjung. Mereka berharap agar alternatif lokasi penataan yang lebih strategis dipertimbangkan demi menjamin keberlangsungan usaha mereka.

Aspirasi ini kemudian dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bukittinggi, yang berjanji akan menindaklanjuti melalui rapat kerja dengan pemerintah daerah guna mencari solusi terbaik yang berimbang antara kepentingan pedagang, masyarakat, dan ketertiban pasar.

Pentingnya Pasar dalam Konteks Ekonomi dan Budaya Bukittinggi

Pasa Ateh bukan sekadar tempat berdagang. Secara historis, pasar ini adalah pusat aktivitas ekonomi dan interaksi sosial masyarakat Bukittinggi. Pasar tradisional seperti ini memainkan peran penting dalam menjaga kekuatan ekonomi mikro, menjaga keberlangsungan usaha kecil, serta memperkaya pengalaman budaya masyarakat lokal.

Sejak era sebelum kolonial, pasar di kota ini telah menjadi tempat bertemunya pedagang dan konsumen dari berbagai latar belakang, menjadikan pasar sebagai ruang sosial sekaligus ekonomi. Keberadaan pasar seperti Pasa Ateh turut memperkaya pengalaman wisatawan yang datang ke Bukittinggi, dikenal sebagai kota wisata dengan daya tarik seperti Jam Gadang dan budaya Minangkabau yang kuat.

Tantangan Tata Kelola Pasar di Era Modern

Kondisi Pasa Ateh yang sepi dan banyak toko tidak aktif mencerminkan tantangan yang lebih luas mengenai tata kelola pasar tradisional di era modern. Seiring perubahan pola konsumsi, persaingan dengan toko ritel modern, hingga dinamika ekonomi pasca-pandemi, pasar tradisional harus beradaptasi agar tetap relevan. Pemerintah kota kini berada pada posisi strategis untuk mendesain kembali peran Pasa Ateh sebagai katalis ekonomi lokal yang dinamis.

Penyusunan kebijakan yang berpihak kepada pedagang, sistem pengelolaan modern, serta pemanfaatan teknologi digital dalam transaksi pasar adalah beberapa langkah yang kini diupayakan. Inovasi semacam ini menjadi kunci agar pasar tradisional tidak hilang digerus zaman, tetapi justru menjadi bagian dari ekonomi masa depan yang inklusif.

Pesan Inspiratif untuk Pembaca Muda

Perubahan yang sedang dilakukan di Pasa Ateh Bukittinggi menunjukkan bahwa pembangunan kota bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga tentang pemberdayaan komunitas dan tata kelola ekonomi yang berkelanjutan. Bagi generasi muda, ini adalah pelajaran penting bahwa setiap ruang publik dan ekonomi — seperti pasar — punya cerita, nilai sejarah, dan peluang besar untuk dibangkitkan kembali.

Mari kita lihat penataan pasar ini dengan semangat kebersamaan; bahwa ketika kita merapikan ruang ekonomi bersama, kita juga memberi ruang bagi impian, usaha, dan peluang baru untuk tumbuh. Jadikan setiap perubahan sebagai momentum untuk belajar beradaptasi, berpikir kreatif, dan berkontribusi bagi kemajuan kota tercinta ini.

  • Total page views: 36,365
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor