Bukittinggi – Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat menggelar rangkaian tabur bunga dan ziarah ke Taman Makam Pahlawan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pejuang. Kegiatan tersebut dilaksanakan menyambut momentum Hari Bhayangkara ke-79, ditaburi makna mendalam tentang pengabdian dan patriotisme institusi.
Tabur bunga dipimpin langsung oleh Wakapolda Sumbar, Brigjen Pol Gupuh Setiyono, S.Ik., MH, yang mendampingi sejumlah perwira tinggi Polda dan personel Polwan. Upacara berlangsung khidmat dan menjadi simbol penghormatan yang tulus.
Makna Tabur Bunga: Lebih dari Ritual
Kegiatan tabur bunga menjadi simbol penghargaan kepada jasa para pahlawan, sekaligus pengingat bagi anggota Polri—khususnya Polwan—tentang pentingnya menjalankan tugas dengan penuh integritas dan pengabdian. Nilai-nilai tersebut penting untuk terus diteladani.
Selalu hadir sebagai representasi profesionalisme dan rasa hormat tinggi terhadap sejarah. Polwan mencerminkan semangat “melindungi, mengayomi, melayani” yang menyatu antara femininitas dan dedikasi.
Sejarah Tradisi Ziarah Polwan
Sejak beberapa tahun terakhir, ziarah dan tabur bunga menjadi elemen penting rangkaian peringatan Hari Jadi Polwan. Misalnya, menjelang Hari Jadi ke-72, Polwan Polda Sumbar melaksanakan ziarah ke TMP Kusuma Bangsa Lolong di Padang. Ini menjadi bagian ritual tahunan untuk mengenang para pejuang dengan penuh kesadaran dan syukur.
Seiring waktu, tradisi ini juga diperluas menjadi momentum pengabdian sosial dan dakwah, termasuk bakti sosial dan napak tilas ke monumen Polwan di Bukittinggi. Ziarah tidak hanya simbol, melainkan doa dan refleksi terhadap nilai-nilai luhur.
Relevansi di Era Kekinian
Di era digital dan globalisasi, aksi ziarah dan tabur bunga memiliki resonansi kuat sebagai pengingat akar dan identitas kolektif. Bagi perempuan muda—khususnya Polwan—kegiatan ini mempertegas bahwa profesi memanggil integritas dan nilai luhur, bukan sekadar prosedur.
Tradisi penghormatan ini menyampaikan pesan penting bagi masyarakat luas: bahwa penghargaan terhadap pahlawan adalah tanggung jawab kolektif. Generasi muda, meski hidup di tengah arus modernitas, tetap butuh akar sejarah yang memberi kekuatan etis untuk maju.
Pesan Inspiratif untuk Generasi Muda
Momennya: di bukit tinggi sejarah kita bertepuk tangan bukan untuk mengagungkan ikon, tetapi merayakan nilai pengabdian.
Untuk kamu, generasi digital dan kreatif—jadikan nilai penghormatan dan pengabdian sebagai motivasi. Gali potensimu, kontribusi nyata bagi sesama, dan biarkan tindakanmu mencerminkan semangat Juang yang tak lekang oleh waktu.








