Resmikan Jalan Haji Usmar Ismail: Mengabadikan Maestro Perfilman Indonesia di Tanah Kelahirannya

jalan usmar ismail

Bukittinggi, 28 April 2025 — Pemerintah Kota Bukittinggi meresmikan nama Jalan Haji Usmar Ismail, sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh perfilman nasional yang lahir di kota itu. Peresmian tersebut dilaksanakan pada 28 Desember 2019, sekaligus memperingati warisan budaya dan kontribusi besar Usmar Ismail dalam membangun identitas sinema Indonesia.

Langkah ini menjadi momen penting bagi Bukittinggi, tidak hanya sebagai kota wisata sejarah dan budaya, tetapi juga sebagai kota kelahiran tokoh perfilman kelas dunia.


Usmar Ismail, Maestro Film Indonesia dari Bukittinggi

Usmar Ismail, lahir pada 20 Maret 1921 di Bukittinggi, dikenal sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Ia merupakan pendiri Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) yang pertama kali memproduksi film Indonesia dengan semangat nasionalisme. Film karyanya yang terkenal, “Darah dan Doa” (1950), dianggap sebagai film nasional pertama karena mengangkat perspektif Indonesia merdeka.

Selain sebagai sineas, Usmar juga aktif dalam dunia sastra, jurnalistik, dan pernah menjadi anggota DPR. Ia wafat pada 2 Januari 1971 di Jakarta.

Pengaruhnya dalam membentuk karakter sinema Indonesia sangat besar, hingga pada 2021 Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Usmar Ismail—suatu penghargaan luar biasa bagi seorang pekerja seni.


Peresmian Jalan oleh Wali Kota Bukittinggi

Peresmian nama jalan ini dilakukan secara simbolis oleh Wali Kota Bukittinggi saat itu, Ramlan Nurmatias, didampingi sejumlah tokoh budaya, perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta para pelajar dari berbagai sekolah di Bukittinggi.

“Usmar Ismail adalah kebanggaan bagi Bukittinggi dan Indonesia. Dengan penamaan jalan ini, kita mengabadikan semangat dan nilai perjuangan beliau untuk terus dikenang oleh generasi muda,” ujar Ramlan.

Jalan Haji Usmar Ismail kini menggantikan sebagian ruas jalan yang sebelumnya tidak dinamai secara khusus dan terletak di kawasan strategis antara pusat kota dan area pendidikan, menjadikannya sangat relevan untuk fungsi edukatif dan simbolik.


Apresiasi dari Keluarga dan Komunitas Perfilman

Perwakilan keluarga Usmar Ismail yang hadir dalam peresmian menyampaikan rasa haru dan bangga. Mereka mengapresiasi langkah konkret Pemerintah Kota Bukittinggi dalam menghargai jasa almarhum.

“Kami sangat berterima kasih. Ini menjadi pengingat bahwa karya dan idealisme Bapak Usmar tidak pernah sia-sia,” ungkap cucu Usmar Ismail dalam sambutannya.

Komunitas film lokal dan nasional turut menyambut positif langkah ini. Penamaan jalan atas nama tokoh film dinilai sebagai upaya penting dalam memori kolektif sejarah budaya, sesuatu yang masih jarang dilakukan oleh pemerintah daerah.


Usmar Ismail dalam Konteks Sejarah dan Budaya Minangkabau

Sebagai putra Minangkabau, Usmar Ismail mewarisi tradisi literasi dan intelektualitas yang kuat dari adat Minang. Suku Minang dikenal memiliki banyak tokoh besar di bidang sastra, hukum, dan politik—dan Usmar menambahkan daftar itu melalui jalur seni film.

Semangat “adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” yang mendasari nilai-nilai Minangkabau terbawa ke dalam karya-karyanya yang penuh muatan etis dan kebangsaan. Film-filmnya tidak hanya menghibur, tetapi menyuarakan kritik sosial dan refleksi kemanusiaan.


Potensi Pengembangan Jalan Haji Usmar Ismail sebagai Destinasi Edukasi Budaya

Pakar pariwisata budaya Sumatera Barat, Dr. Helmi Zainal, menyarankan agar Jalan Haji Usmar Ismail dapat dikembangkan sebagai koridor budaya perfilman. Ia menyebut potensi seperti pendirian Museum Mini Film Nasional, mural tematik, atau pemutaran film Usmar secara berkala di kawasan tersebut.

“Kalau diformat sebagai ruang budaya, ini bisa jadi magnet baru untuk wisata edukatif bagi pelajar dan sineas muda,” ujarnya.

Pemerintah Kota Bukittinggi pun membuka peluang untuk menindaklanjuti ide tersebut, terutama karena Bukittinggi tengah menguatkan identitasnya sebagai “Kota Warisan Budaya”.


Generasi Muda dan Sinema: Inspirasi Tak Lekang Zaman

Dalam era digital saat ini, mengingat kembali perjuangan Usmar Ismail menjadi semakin relevan. Di tengah serbuan konten instan dan film komersial, nilai-nilai yang diusung Usmar tentang kemerdekaan berpikir, keberanian berekspresi, dan tanggung jawab sosial dalam berkarya layak menjadi inspirasi bagi generasi muda.

“Kami baru tahu kalau film pertama Indonesia dibuat oleh orang Bukittinggi. Ini bikin kami bangga sekaligus tertantang untuk berani berkarya juga,” kata Aisyah, siswa SMAN 1 Bukittinggi yang turut hadir di acara peresmian.


Mengabadikan Warisan, Membangun Masa Depan

Penamaan Jalan Haji Usmar Ismail di Bukittinggi bukan sekadar perubahan papan nama. Ini adalah bagian dari narasi besar tentang bagaimana kota menghargai sejarah dan membimbing masa depannya. Dengan mengenang Usmar Ismail, Bukittinggi mengajak warganya—terutama generasi muda—untuk tidak lupa bahwa perubahan besar bisa lahir dari idealisme dan keberanian berkarya.

  • Total page views: 40,561
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor