Bukittinggi, 21 April 2025 — Pasa Ateh, pusat perbelanjaan ikonik di jantung Kota Bukittinggi, kembali menjadi sorotan setelah lebih dari 400 toko dilaporkan tutup. Kondisi ini memicu reaksi tegas dari Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, yang mengancam akan mencabut kunci toko-toko yang tidak beroperasi.
“Jika para pedagang tidak segera membuka tokonya, kami akan mengambil tindakan tegas dengan mencabut kunci toko-toko yang dibiarkan tutup,” ujar Wali Kota Ramlan Nurmatias.
Sejarah dan Peran Strategis Pasa Ateh
Pasa Ateh, yang juga dikenal sebagai Pasar Atas, memiliki sejarah panjang sebagai pusat ekonomi dan budaya di Bukittinggi. Berdiri sebelum ikon Jam Gadang dibangun pada tahun 1926, pasar ini telah melewati berbagai era, mulai dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Sebagai pusat perdagangan, Pasa Ateh tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat lokal tetapi juga menjadi destinasi wisata belanja bagi pengunjung dari berbagai daerah. Berbagai produk khas Minangkabau, seperti mukena bordir, selendang Suji, dan sepatu Datuak, dapat ditemukan di sini.
Revitalisasi Pasca Kebakaran dan Tantangan Baru
Pada Oktober 2017, Pasa Ateh mengalami kebakaran hebat yang mengakibatkan kerugian besar. Pemerintah kemudian melakukan revitalisasi dengan konsep green building yang ramah lingkungan, menghabiskan anggaran sekitar Rp 292 miliar. Namun, meskipun telah diresmikan pada Juni 2020, aktivitas perdagangan di pasar ini belum sepenuhnya pulih.
Pandemi COVID-19 yang melanda sejak awal 2020 turut memperparah kondisi, dengan pembatasan aktivitas dan penurunan jumlah pengunjung. Meskipun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah dilonggarkan, banyak pedagang mengeluhkan sepinya pembeli dan tingginya beban retribusi pasar.
Keluhan Pedagang dan Beban Retribusi
Sejumlah pedagang menyatakan bahwa tingginya retribusi pasar menjadi beban tambahan di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Mereka mengeluhkan Peraturan Daerah (Perda) Pasar Rakyat yang dinilai memberatkan, terutama bagi pedagang kecil yang pendapatannya menurun drastis.
“Kami berharap pemerintah dapat memberikan keringanan atau solusi atas beban retribusi yang kami hadapi saat ini,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Upaya Pemerintah dan Harapan ke Depan
Pemerintah Kota Bukittinggi berkomitmen untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh para pedagang. Langkah-langkah strategis, seperti peninjauan ulang kebijakan retribusi dan program promosi pasar, sedang dipertimbangkan untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di Pasa Ateh.
Wali Kota Ramlan Nurmatias menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pedagang dalam menghadapi tantangan ini. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama mencari solusi demi keberlangsungan ekonomi lokal dan pelestarian warisan budaya Bukittinggi.








