Masjid Jamik Surau Gadang: Jejak Abad ke-19 yang Direnovasi

surau gadang

Jejak Sejarah Masjid Jamik Surau Gadang Bukittinggi

Bukittinggi, Sumbar – Masjid Jamik Surau Gadang, yang juga dikenal sebagai Masjid Jami’ Mandiangin, merupakan salah satu masjid tertua di Kota Bukittinggi. Berlokasi strategis di persimpangan jalan utama di Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, masjid ini telah menjadi saksi bisu perjalanan budaya dan spiritual masyarakat sejak abad ke-19

Berdiri pada 1830 sebagai surau tradisional berdenah bujur sangkar dengan penopang tiang kayu dan atap ijuk, surau ini berkembang menjadi masjid jami pada periode 1855–1865. Sepanjang hampir dua abad, bangunannya telah mengalami sejumlah renovasi besar, tetap menjaga karakter arsitektur Minangkabau—khususnya atap tumpang tiga hingga bentuk atap bertingkat yang khas


Renovasi dan Biaya Pembangunan

Peletakan batu pertama renovasi total masjid dilakukan oleh Gubernur Mahyeldi Ansharullah pada 3 Desember 2021, menandai dimulainya pembangunan kembali dengan estimasi anggaran sebesar Rp23–30 miliar. Rencana renovasi meliputi pelebaran masjid dari denah asli 18×9 meter menjadi ukuran baru 28×28 meter, bertambahnya lantai dua dan basement, tanpa menghilangkan gaya atap tradisional tumpang tiga

Denah baru mencakup lantai dasar untuk parkir, lantai satu untuk ibadah, dan lantai dua difungsikan sebagai ruang pendidikan Al‑Qur’an dan MDA, yang diharapkan meningkatkan kapasitas dan fungsi sosial masjid


Peran Tokoh dan Partisipasi Masyarakat

Renovasi ini melibatkan tokoh adat dan masyarakat. Ketua pelaksana Syahrizal Dt. Palang Gagah, yang juga Ketua LKAAM Bukittinggi, bersama pengurus lain, mendapat mandat masyarakat setempat

Renovasi dijalankan secara gotong royong; dana diperoleh dari wakaf jamaah, donatur perantau, CSR, serta dukungan pemerintah Pada Februari 2023, BKMT Bukittinggi berhasil menggalang wakaf lebih dari Rp33 juta untuk pengecoran lantai tiga


Arsitektur: Tradisi Minangkabau Bertemu Modern

Masjid ini tetap mempertahankan atap tradisional tumpang tiga khas Minangkabau, dilengkapi dengan menara segi delapan yang menambah aksen Nusantara . Struktur bangunan kini menggunakan beton dan keramik demi daya tahan, namun arsitektur kayu dan bentuk atap tidak tergantikan

Dengan dukungan 25 tiang utama, simbol 25 nabi dalam Islam, serta ruangan mihrab dan mimbar yang diperhalus, masjid kini menjadi kombinasi antara nilai spiritual, estetika, dan fungsi sosial modern


Fungsi Sosial dan Spiritualitas Kini

Sejak selesai dibangun kembali pada akhir 2024, masjid telah menjadi pusat ibadah, kajian keagamaan, dan aktivitas sosial. Wali Kota Ramlan Nurmatias dan jajaran Pemko Bukittinggi terus mendorong Masjid Surau Gadang sebagai “Surau Gemilang”: pusat ibadah, edukasi, serta kegiatan positif masyarakat – termasuk fasilitas Wi‑Fi gratis untuk generasi muda

Dengan kapasitas lebih luas dan fungsi ganda, masjid ini menjadi ikon religi dan budaya di Bukittinggi, menarik jamaah lokal dan pengunjung dari berbagai daerah.


Fakta menarik & Konteks Kekinian

  1. Masjid Surau Gadang merupakan satu dari delapan masjid jamik bersejarah di Bukittinggi – masjid lain ada di Tarok, Tigo Baleh, dan tangah‑tengah lain
  2. Renovasi modern tetap mengutamakan elemen arsitektur tradisional: atap bertingkat tiga dan struktur tiang kayu diganti beton tapi nilai simbolis tetap dipertahankan
  3. Letak masjid juga berbatasan langsung dengan makam Tuanku Kurai dan area persawahan, menonjolkan keterkaitan religi, budaya, dan agraris lokal
  4. Pembangunan berbasis wakaf dan CSR menunjukkan model partisipatif masyarakat, bukan sekadar proyek pemerintah .
  5. Program “Surau Gemilang” menjadikan masjid ini ruang digital dan pembelajaran, sejalan dengan transformasi budaya lokal ke era modern .

Mengapa Ini Penting untuk Generasi Muda

Masjid Jamik Surau Gadang bukan hanya situs bersejarah: ini cerminan identitas Minangkabau – tempat ibadah, pendidikan, budaya, dan solidaritas naragi yang hidup. Bagi generasi 18–50 tahun:

  • Pelajari nilai gotong royong melalui proses renovasi massal yang berbasis masyarakat.
  • Rasakan jantung sejarah lokal dalam setiap detil arsitektur: tiang, atap, dan simbol 25 nabi.
  • Jadikan masjid sebagai ruang positif—digital, edukasi, sosial—bukan hanya ritual.
  • Dhuhur, tarawih, kajian agama di Surau Gadang menjadi kesempatan memperkuat spiritual sekaligus komunitas.

Pesan Inspiratif

Masjid Jamik Surau Gadang mengajarkan bahwa warisan tak hanya tentang bangunan—itu soal komitmen untuk menjaga identitas, kebersamaan, dan iman. Mari, generasi muda Bukittinggi dan Sumbar, jadikan masjid ini sebagai laboratorium nilai hidup: kolaborasi, pelestarian budaya, dan inovasi religi. Bangun masa depan yang berakar kuat dan bermakna.

  • Total page views: 49,079
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor