Pemprov Sumbar Dorong Cipta Lagu Anak Lewat Perkumpulan BRTV

Peluncuran Perkumpulan BRTV

Sumatera Barat – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat meluncurkan Perkumpulan BRTV sebagai platform pengembangan kreativitas anak, khususnya melalui penciptaan lagu anak-anak. Inisiatif ini ditujukan agar anak-anak di ranah Minang tak hanya menjadi konsumen budaya, tapi juga bisa menjadi pencipta karya yang sesuai tingkat perkembangan mereka.({turn0search0})

Peluncuran berlangsung dalam acara resmi yang difasilitasi Pemprov, dihadiri pengurus BRTV, alumni penyanyi lagu anak, penggiat seni, dan tokoh pendidikan. Salah satu agenda utama yang diluncurkan adalah ajakan agar para alumni menciptakan lagu anak-anak, “sehingga dapat didengar maupun nyanyikan anak-anak”, seperti yang disampaikan oleh pengurus Perkumpulan BRTV.({turn0search0})


Mendorong Kreativitas Anak Sejak Dini

Ketua Tim Penggerak PKK Sumbar menyebut bahwa lagu anak bukan sekadar hiburan, tetapi bagian penting dari pendidikan karakter dan identitas budaya. Lagu anak membantu anak-anak memahami bahasa, moral, adat, serta memperkuat rasa cinta kepada tanah air sejak usia dini.({turn0search1})

Pengurus BRTV akan memfasilitasi proses penciptaan lagu dengan melibatkan alumni yang berpengalaman, musisi lokal, serta guru-guru seni. Lagu yang dihasilkan diharapkan mudah dinyanyikan, liriknya ramah anak, dan melibatkan keunikan budaya Sumatera Barat seperti bahasa Minang, adat, alam, serta cerita keseharian anak-anak di ranah.


Peran Pemprov Sumbar

Pemprov Sumatera Barat menyatakan diri siap mendukung penuh BRTV dalam aspek regulasi, fasilitasi teknis, dan penganggaran jika diperlukan. Dukungan ini termasuk pemberian izin panggung, ruang kreatif, serta penyediaan insentif bagi pencipta lagu anak yang karya-nya populer dan mendidik.

Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemprov juga akan menjadikan lagu-anak hasil BRTV sebagai bagian dari materi ekstrakurikuler di sekolah dasar dan taman kanak-kanak agar anak-anak dapat menyanyikannya di sekolah. Hal ini diharapkan dapat memperkuat peran lagu anak sebagai media pembelajaran dan budaya.


Pentingnya Lagu Anak dalam Pendidikan Budaya

Lagu anak bukan hal baru di Ranah Minang. Sejak masa lampau, anak-anak belajar melalui lagu dan pantun di surau, di rumah, dan di jalan kampung. Lagu-lagu lokal seperti “Mande Mande”, “Ayam Den Lapeh”, dan banyak lagu rakyat lainnya telah menjadi bagian dari identitas budaya.

Namun, di era digital, lagu anak lokal sering kalah populer dibanding konten impor. Kehadiran lagu-anak yang diciptakan di Sumbar diharapkan mengangkat kembali lagu anak lokal ke permukaan, menjaga budaya lokal agar tidak tergerus arus globalisasi.


Rencana Implementasi dan Tantangan

Pengurus BRTV menyebut bahwa proses penciptaan lagu anak akan melibatkan beberapa tahap: pencarian ide, penulisan lirik, komposisi musik, rekaman, dan distribusi—baik dalam bentuk CD fisik, digital, radio komunitas, maupun platform streaming.

Salah satu tantangan utama adalah memastikan bahwa lagu yang dihasilkan sesuai standar pedagogis anak: lirik yang mudah dipahami, tidak mengandung unsur kekerasan atau dewasa, serta musik yang ramah telinga anak. Selain itu, distribusi ke daerah rural atau daerah terpencil masih akan menjadi kendala yang perlu diperhatikan.


Harapan untuk Generasi Muda

Bagi generasi muda di Sumbar, kesempatan ini membuka ruang kreatif baru. Anak-anak dan alumni dapat mengambil bagian dalam karya seni yang membangun, bukan hanya konsumtif. Dengan keterlibatan aktif, mereka akan belajar bekerjasama, berkreasi, dan memahami nilai-nilai budaya lokal.

Guru dan orang tua juga diminta mendukung dengan memberi ruang kreatif, memfasilitasi alat dan media, serta memotivasi anak-anak agar tidak malu menggunakan bahasa Minang atau tema lokal dalam karyanya.


Sejarah Lagu Anak & Budaya Minang

Lagu rakyat dan pantun tradisional sangat melekat dalam budaya Minangkabau. Dalam sejarahnya, lagu rakyat digunakan sebagai sarana pengajaran, hiburan, dan tradisi lisan. Lagu anak lokal juga dulu sering diajarkan di rumah dan surau tanpa rekaman, hanya dengan suara dan mulut ke mulut.

Era radio, kaset, dan kemudian televisi di abad ke-20 membawa revolusi distribusi lagu anak. Namun di abad ke-21, platform digital memicu tantangan baru: meskipun teknologi lebih mudah, tantangan kreatif dan keaslian budaya menjadi penting agar karya lokal tetap eksis dan bermakna.


Pesan Inspiratif

Melalui peluncuran Perkumpulan BRTV dan ajakan mencipta lagu anak, kita diingatkan bahwa budaya dan kreativitas adalah warisan yang harus dijaga. Lagu anak bukan hanya nada dan irama, tetapi juga identitas, ingatan, dan cinta tanah air.

Untuk generasi muda: jadilah kreator karya bukan hanya konsumen. Bertemanlah dengan nada, bahasa, dan budaya lokal. Setiap lagu yang kalian ciptakan adalah jejak yang ditinggalkan untuk masa depan.

  • Total page views: 55,309
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor