Stasiun Lambuang di Bukittinggi, Sumatera Barat, yang diresmikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada Maret 2024, kini menghadapi tantangan serius setelah hanya setahun beroperasi. Awalnya digadang-gadang sebagai pusat kuliner terbesar di Sumbar, kini lokasi tersebut mengalami penurunan aktivitas yang signifikan.
Menurut Al Amin, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bukittinggi, “Saat ini, kondisi Stasiun Lambuang memang sepi sehingga Pemkot Bukittinggi mengkhawatirkan lokasi itu rawan tindakan kriminal.” Ia menambahkan bahwa Pemkot Bukittinggi membayar sewa tahunan sebesar Rp 2,3 miliar kepada PT KAI untuk lahan tersebut, namun pendapatan dari retribusi pedagang jauh dari angka sewa, membebani APBD kota.
Sejarah dan Transformasi
Stasiun Lambuang dibangun di atas lahan bekas Stasiun Kereta Api Bukittinggi yang telah lama tidak beroperasi. Revitalisasi ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut sebagai pusat kuliner yang menampung 116 gerai UMKM, menawarkan berbagai makanan khas Minangkabau seperti nasi kapau, sate padang, dan bubur kampiun.
Nama “Lambuang” sendiri berasal dari bahasa Minang yang berarti “perut,” mencerminkan tujuan kawasan ini sebagai tempat memuaskan selera kuliner masyarakat dan wisatawan.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Negeri Padang menunjukkan bahwa revitalisasi Stasiun Lambuang awalnya memberikan dampak positif, seperti menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan UMKM di sekitarnya. Namun, kurangnya pelatihan dan promosi dari pihak terkait menyebabkan penurunan pendapatan bagi pelaku UMKM.
Selama libur Lebaran 2024, Stasiun Lambuang menjadi salah satu lokasi favorit bagi pemudik dan warga lokal untuk bersantai di malam hari. Namun, popularitas tersebut tidak berlanjut, dan kini kawasan tersebut sepi pengunjung.
Respons Pemerintah dan Harapan ke Depan
Pemerintah Kota Bukittinggi mempertimbangkan untuk mengembalikan pengelolaan Stasiun Lambuang kepada PT KAI. “Daripada nantinya timbul masalah baru seperti tindakan kriminal, lebih baik dikembalikan ke PT KAI,” kata Al Amin.
Meskipun menghadapi tantangan, Stasiun Lambuang masih memiliki potensi untuk menjadi destinasi wisata kuliner yang menarik. Diperlukan strategi pemasaran yang efektif, pelatihan bagi pelaku UMKM, dan dukungan dari berbagai pihak untuk menghidupkan kembali kawasan ini.
Kesimpulan
Stasiun Lambuang merupakan contoh nyata bagaimana revitalisasi kawasan bersejarah dapat memberikan dampak positif jika dikelola dengan baik. Namun, tanpa perencanaan jangka panjang dan dukungan berkelanjutan, inisiatif seperti ini dapat menghadapi tantangan serius. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa Stasiun Lambuang dapat kembali menjadi pusat kuliner yang membanggakan Bukittinggi.








