Prof Dr Hasjim Djalal: Arsitek Nusantara di Mata Internasional
Prof Dr H Hasjim Djalal, MA, dikenal sebagai salah satu tokoh penting di balik pengakuan dunia terhadap konsep Nusantara dalam Konvensi Hukum Laut Internasional PBB (UNCLOS 1982). Bersama dengan Prof Dr Mochtar Kusumaatmadja, beliau membawa amanat Deklarasi Juanda 1957 yang mendefinisikan Indonesia sebagai negara kepulauan, memperjuangkan integritas wilayah Indonesia di forum internasional.
Meski tak termasuk dalam “Tiga Diplomat Utama” yang disebut oleh Menlu RI N. Hassan Wirajuda—Syahrir, Hatta, dan Mohammad Roem—Hasjim Djalal dianggap sejajar dengan tokoh seperti Haji Agus Salim. Namanya menjadi simbol keberhasilan diplomasi Indonesia dalam memperjuangkan kedaulatan wilayah laut di tengah tekanan global.
Mengubah Peta Wilayah Indonesia
Perjuangan Hasjim Djalal yang gigih melibatkan negosiasi di berbagai forum internasional selama bertahun-tahun. Hasilnya, konsep kewilayahan Nusantara berhasil diintegrasikan ke dalam UNCLOS 1982. Implikasi pengakuan tersebut signifikan: luas wilayah maritim Indonesia meningkat drastis dari 2 juta km² menjadi 5,8 juta km², memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.
Dalam berbagai kesempatan, beliau sering menekankan pentingnya kesatuan wilayah darat dan laut bagi kedaulatan negara. “Tanpa pengakuan terhadap konsep Nusantara, Indonesia hanya akan menjadi sekumpulan pulau yang terpisah-pisah,” ujar Hasjim di salah satu wawancaranya.
Asal-Usul Sang Diplomat
Lahir pada 23 Februari 1923 di Ampang Gadang, Sumatera Barat, Hasjim berasal dari keluarga religius. Ayahnya, H Djalaludin atau “Inyiak Djala,” adalah seorang ulama terkemuka yang mendirikan sekolah agama, Ma’hadul Islami. Hasjim tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai keislaman dan pendidikan sejak dini.
Setelah menikah dengan Zurni Kalim dari Solok, Hasjim memiliki tiga anak, salah satunya adalah Dr Dino Patti Djalal, yang mewarisi bakat diplomasi sang ayah dan pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Amerika Serikat.
Jejak Pendidikan dan Awal Perjuangan
Hasjim memulai pendidikan formalnya di Surau Pinang, dekat kampung halamannya, sebelum melanjutkan ke sekolah lanjutan di Bukittinggi. Pada tahun 1953, ia diterima di Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN) Kementerian Luar Negeri, menandai awal langkahnya sebagai calon diplomat.
Keinginannya untuk belajar tidak berhenti di tanah air. Berkat beasiswa dari United States Information Services (USIS), Hasjim melanjutkan studi ke University of Virginia, Amerika Serikat. Di sana, ia meraih gelar S-2 dan S-3 dengan disertasi yang menyoroti keadilan bagi negara kepulauan dalam hukum laut internasional.
Kiprah Internasional
Sebagai ahli hukum laut internasional, Hasjim memainkan peran penting dalam diplomasi Indonesia, khususnya dalam perundingan batas maritim dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Australia, dan India. Tak hanya itu, ia juga menjadi mediator dalam konflik Laut China Selatan, menunjukkan keahliannya sebagai diplomat ulung.
Ketika menjabat sebagai Dubes RI di Kanada dan Jerman, Hasjim memanfaatkan posisinya untuk memperkuat hubungan bilateral, termasuk kerja sama di bidang lingkungan dan kebudayaan. “Diplomasi bukan hanya tentang politik, tetapi juga tentang bagaimana kita membawa nama baik bangsa di mata dunia,” ungkapnya.
Kontribusi untuk Kampung Halaman
Meski berkarya di ranah internasional, Hasjim tak pernah melupakan tanah kelahirannya. Ia aktif mendukung pendidikan di Sumatera Barat, termasuk mendirikan fasilitas belajar untuk anak-anak di kampungnya. Melalui Yayasan Genta Budaya, ia juga membantu melestarikan seni dan budaya Minangkabau, memperlihatkan kecintaannya pada adat istiadat lokal.
Warisan Abadi
Perjalanan hidup Prof Dr H Hasjim Djalal, MA, adalah bukti nyata bahwa diplomasi adalah alat untuk mewujudkan kedaulatan bangsa. Sebagai seorang patriot negara kepulauan, ia mengajarkan bahwa perjuangan di panggung internasional harus dilandasi oleh semangat pengabdian kepada tanah air.
Generasi muda Indonesia, terutama mereka yang bercita-cita menjadi diplomat, dapat belajar banyak dari dedikasi dan visi Hasjim Djalal. Melalui kerja keras dan tekadnya, ia memastikan Indonesia diakui sebagai negara kepulauan yang utuh, sekaligus membuka jalan bagi diplomasi modern yang berfokus pada kesejahteraan rakyat.








