Menuju Satu Abad: Jam Gadang Bukittinggi Undang Keturunan Ratu Wilhelmina & Bongkar Misteri Sejarah

100 tahun jam gadang

Bukittinggi, Juni 2025 – Menuju Peringatan 100 Tahun Jam Gadang

Pak Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengumumkan agenda khusus untuk menyambut peringatan satu abad Jam Gadang pada Juni 2026. Rencananya, pemerintah kota akan mengundang keturunan langsung Ratu Wilhelmina dari Belanda untuk menghadiri peringatan bersejarah tersebut. Aksi ini diharapkan tidak sekadar seremoni, namun juga membuka dialog dan studi sejarah mendalam mengenai asal-usul serta konteks monumental berdirinya Monumen Jam Gadang.

Ramlan menegaskan, “Perlu menelusuri apakah Jam Gadang ini sebagai tanda sebuah kota atau dibangun sebagai hadiah kepada cucu Ratu Wilhelmina”—tanda bahwa aspek sejarah personal dan diplomatik dibalik ikon kota ini perlu digali lebih dalam.


Asal-Usul dan Hadiah dari Kerajaan Belanda

Jam Gadang mulai dibangun antara 1925–1927 atas inisiatif Hendrik Roelof Rookmaaker, kontroler Fort de Kock (sekarang Bukittinggi), dengan tenaga arsitek lokal Yazid Rajo Mangkuto dan Haji Moran sebagai mandor

Jam raksasa ini diyakini sebagai hadiah dari Ratu Wilhelmina, dijuluki “ikon megah Bukittinggi era Ratu Belanda”. Biaya pembangunannya mencapai ±21.000 gulden. Peletakan batu pertama dilakukan oleh putra kecil Rookmaaker saat masih berusia enam tahun.

Jam ini dihias mesin yang dibuat di Recklinghausen, Jerman, juga kembarannya berada di Big Ben, London — hanya dua di dunia.


Evolusi Arsitektur: Jejak Sejarah dalam Setiap Atap

Sepanjang hidupnya, atap Jam Gadang mengalami setidaknya tiga kali perubahan:

  1. Masa kolonial awal (1927): bermahkota kubah dengan patung ayam jantan — simbol membangunkan warga setempat
  2. Masa pendudukan Jepang (1942–1945): diganti menjadi spire ala pagoda Jepang, sesuai gaya arsitektur Shinto
  3. Masa pasca-kemerdekaan (1953): dirombak dengan atap gonjong khas Rumah Gadang — menguatkan identitas Minangkabau

Setiap bentuk atap menjadi refleksi perubahan kekuasaan dan identitas budaya Bukittinggi, dari kolonial, pendudukan asing, hingga nasionalisme lokal.


Fakta Unik: Misteri Angka Romawi ‘IIII’

Jam Gadang menggunakan angka Romawi “IIII” bukan “IV” untuk nomor 4. Pemerintah kota menilai hal ini sebagai bahan studi edukatif bagi generasi muda untuk menelusuri motif di balik pilihan ini. Apakah ini kesalahan teknis, adat, atau simbol keberuntungan ala budaya kolonial?


Bukittinggi dalam Sejarah Besar Indonesia

Jam Gadang bukan hanya ikon wisata, tapi saksi bisu berbagai peristiwa bersejarah:

  • 1945: Pengibaran sang saka pertama kalinya dilakukan di puncaknya, dipimpin oleh pejuang lokal Mara Karma
  • 1959: Lokasi brutal saat konflik PRRI–TNI: ratusan warga sipil dan pejuang PRRI gugur di bawah menaranya
  • Peran sosial publik: sempat difungsikan sebagai pos pengawasan saat Kebakaran Pasar Ateh. Peningkatan revitalisasi dilakukan beberapa kali—setelah gempa 2007 dan seksi taman mulai 2018–19

Persiapan Menuju Seabad: Undangan & Panggung Budaya

Pemkot Bukittinggi membentuk panitia khusus mencakup budayawan, akademisi, dan pemerintah. Menteri Kebudayaan Fadli Zon turut memberikan dukungan.

Agenda rencana terdiri dari:

  • Undangan resmi kepada keluarga Ratu Wilhelmina via Duta Besar Belanda;
  • Seminar internasional sejarah Jam Gadang, termasuk terungkapnya misteri angka Romawi;
  • Festival budaya dan puisi internasional (lebih dari 50 negara diperkirakan ikut)
  • Peresmian revitalisasi; penampilan tarian dan acara seni rakyat di lapangan sekitar.

Pelestarian & Revitalisasi Modern

Untuk menjaga Jam Gadang, dilakukan berbagai langkah:

  • Restorasi struktural setelah gempa 2007—disuntik cairan kimia, didanai pemerintah Belanda (±600 juta rupiah)
  • Revitalisasi taman dan plaza di sekitarnya pada 2018–19 dengan dana Hy Rp18 miliar—hasilnya tempat ini kini lebih ramah wisatawan
  • Pengaturan kunjungan wisata, termasuk larangan penutupan di malam tahun baru demi keamanan publik .

Dampak Sosial & Kebangkitan Ekonomi Lokal

Sebagai simbol kota, Jam Gadang mendukung:

  • Pariwisata: tahun 2024 bukit tinggi dijejali wisatawan — tercatat >760 ribu pengunjung
  • UMKM kreatif: suvenir, bendi, hiasan, bahkan sesi foto berkembang di area plaza.
  • Pendidikan publik: sejarah kolosal ini dijadikan ‘kelas lapangan’ bagi pelajar dan mahasiswa.

Generasi Muda, Budaya, & Kolaborasi Internasional

Di luar momentum peringatan, Jam Gadang menjadi simbol:

  • Identitas Minangkabau: perpaduan tradisi dan kolonial, serta kebanggaan budaya.
  • Dialog lintas generasi: dari orang tua ke muda, berisi cerita heroisme, kolonial, dan masa kini.
  • Kolaborasi global: menyambut delegasi Belanda—diharapkan membuka jalur diplomasi budaya.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Jam

Sebulan sebelum “100 tahun Jam Gadang“, persiapan sedang digelorakan Bukittinggi: dari retorika sejarah hingga kemasan budaya global. Jam Gadang bukan sekadar monumen, melainkan narasi panjang Indonesia—dari kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, hingga identitas etnis kuat.

Dengan mengundang kunjungan keturunan Ratu Wilhelmina, Bukittinggi menunjukkan kesiapan tidak hanya merayakan, tapi merekonstruksi masa lalu dengan kesadaran historis dan kebanggaan budaya. Acara ini juga menjadi pengikat sosial, diplomatik, edukatif, sekaligus penggerak ekonomi lokal berbasis sejarah dan seni.

  • Total page views: 49,999
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor