Prof. Hamka: Penulis Hebat Sumbar, Legenda Literasi

Buya Hamka Literasi

Prof. Hamka Dinobatkan Sebagai Penulis Hebat Sumatera Barat

Padang – Tokoh ulama, sastrawan, dan budayawan legendaris asal Minangkabau, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, resmi dinobatkan sebagai Penulis Hebat Sumatera Barat Tahun 2025 oleh DPD Satupena Sumbar. Penetapan ini dilakukan dalam rapat resmi bersama sejumlah akademisi, penulis, budayawan, dan instansi terkait yang berlangsung di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumbar, Jalan Diponegoro No. 4, Padang, Senin (10/3/2025).

Seleksi Ketat dari 32 Tokoh

Penghargaan ini bukan diberikan sembarangan. Ketua DPD Satupena Sumbar, Sastri Bakry, menjelaskan bahwa tim kurasi awalnya mengumpulkan 32 nama tokoh penulis asal Sumatera Barat. Proses penyaringan kemudian dilakukan menjadi 10 besar, hingga mengerucut menjadi 5 kandidat utama.

Beberapa kriteria penilaian yang digunakan antara lain:

  • Karya tulis yang berdampak luas di Indonesia dan dunia.
  • Lahir atau besar di Sumatera Barat.
  • Sudah wafat namun karya tetap hidup dan relevan.
  • Memberikan kontribusi nyata terhadap budaya lokal dan nasional.
  • Menampilkan keteladanan dalam hidup sehari-hari.

“Dari berbagai nama yang diusulkan, akhirnya Tim menyepakati bahwa Hamka layak dinobatkan sebagai penulis besar dan hebat dari Sumatera Barat,” kata Sastri Bakry.

Warisan Pemikiran dan Sastra

Buya Hamka lahir di Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Ia dikenal sebagai penulis lintas genre: novel, tafsir Al-Qur’an, esai keislaman, hingga karya sejarah dan politik.

Karya terkenalnya seperti “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”, “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, dan tafsir monumental “Tafsir Al-Azhar”, menjadi bacaan wajib yang tak lekang oleh zaman. Tak hanya menyentuh aspek keagamaan, karya-karya Hamka juga menggambarkan pergulatan batin, cinta, budaya Minangkabau, dan nilai moral universal.

Melalui tulisan-tulisannya, Hamka dikenal sebagai jembatan antara pemikiran Islam klasik dengan masyarakat modern. Ia menjadikan literasi sebagai jalan dakwah dan transformasi sosial.

Menginspirasi Generasi Muda

Walau telah wafat pada tahun 1981, nama Buya Hamka terus hidup. Banyak generasi muda kini mulai kembali membaca ulang karya-karyanya, termasuk novel dan pemikirannya tentang kemerdekaan, keadaban, dan spiritualitas.

“Penghargaan ini bukan hanya mengenang, tapi juga menghidupkan kembali literasi dan semangat menulis di kalangan generasi muda,” tambah Sastri.

Fakta Tambahan: Jejak Buya Hamka

  • Hamka menjadi orang Indonesia pertama yang diangkat sebagai Ketua Umum MUI pada tahun 1975.
  • Ia sempat dipenjara di era Orde Lama tanpa proses pengadilan, tetapi menuliskan Tafsir Al-Azhar dari balik jeruji besi.
  • Gelar Profesor Kehormatan diberikan oleh Universitas al-Azhar, Mesir, atas jasanya dalam dunia Islam.

Ajakan untuk Bangkitkan Budaya Menulis

Menyikapi penghargaan ini, berbagai komunitas literasi di Sumatera Barat menggelar diskusi dan bedah buku Hamka sepanjang bulan Juni–Agustus 2025. Kegiatan ini juga dijadikan momen untuk memotivasi anak muda menulis karya lokal yang berdampak global.

Literasi bukan sekadar membaca, tapi juga menulis untuk mengingat, menginspirasi, dan membentuk peradaban. Sosok Hamka membuktikan bahwa pena bisa menjadi alat perjuangan yang abadi.

“Seorang penulis bisa mati, tapi tulisannya akan tetap hidup.” — Buya Hamka

  • Total page views: 50,035
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor