Jejak Kehidupan dan Awal Gerak Canduang
Sheikh Sulaiman ar-Rasuli—dengan gelar khusus Inyiak Canduang—lahir pada 10 Desember 1871 di andung, Agam, Sumatera Barat, dari keluarga ulama. Setelah belajar al-Qur’an sejak kecil dari gurunya, Abdurrahman Batuhampar, beliau kemudian menuntut ilmu tinggi di Mekkah, sebelum kembali dan mendirikan Surau Baru di Candung yang kemudian menjadi model madrasah modern pertama di ranah Minang
Antara Tradisi dan Modernisasi Pendidikan Islam
Setiba di tanah air pada 1907, Sheikh Sulaiman mereformasi surau menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di Candung. Ia memperkenalkan metode pembelajaran ala kelas, lengkap dengan meja, papan tulis, dan pegangan kurikulum modern—menjadi pelopor sistem pendidikan modern tradisional Minangkabau
Paska itu, pada 5 Mei 1928, MTI menjadi landasan berdirinya organisasi pendidikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI)—wadah kaum tua tradisional yang berpijak pada mazhab Syafi’i dan Ahlussunnah
Gagasan Adat Basandi Syarak untuk Kehidupan Sosial
Sheikh Sulaiman adalah tokoh yang melanggengkan idiom “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”—adalah adat yang berpijak kepada hukum Islam, dan hukum tersebut berpijak pada Al-Qur’an. Gagasan ini menjadi pengikat antara adat Minangkabau dan ajaran Islam dalam tatanan sosial dan budaya masyarakat
Oh ya, beliau juga menegaskan:
“Jika ada adat yang tidak sesuai dengan ajaran agama maka itu bukan adat Minangkabau namun adat jahiliah.”
Kiprah Sosial, Organisasi, dan Politik
Semasa penjajahan Belanda, Sheikh Sulaiman aktif dalam berbagai organisasi:
- Ketua cabang Sarekat Islam Candung (1918).
- Pembentuk Ittihad Ulama Sumatera (1921).
- Pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan PERTI (1928–1930).
- Ketua Majelis Islam Tinggi Minangkabau di masa pendudukan Jepang (1943).
- Anggota Konstituante RI setelah kemerdekaan (1955)
Warisan Tulisannya dan Kebudayaan Intelektual
Sheikh Sulaiman produktif menulis banyak karya, di antaranya:
- Aqwāl al-Marḍiyyah, Enam Risalah, Pedoman Hidup di Alam Minangkabau.
- Buku-buku kajian fiqh, akidah (Ash’ari), tasawuf, tafsir, hingga kritik terhadap gerakan yang menyalahi sunni
Tulisan-tulisannya hingga kini masih diajarkan di MTI Candung sebagai warisan intelektual gagasan klasik-konservatif Minangkabau.
Kontribusi Sejarah & Relevansi Masa Kini
Sheikh Sulaiman hidup hampir satu abad (wafat pada 1 Agustus 1970) dan menyaksikan perubahan besar dalam pendidikan, politik, dan masyarakat Minangkabau. Hari ini, figurnya tetap menjadi inspirasi untuk:
- Pelestarian adat Minangkabau yang berpijak pada Islam moderat.
- Pendidikan berbasis tradisi namun inklusif teknologi ala Surau–Madrasah modernisasi.
- Pemimpin komunitas religius yang progresif, namun tetap menjaga warisan lokal.
Ajakan untuk Generasi Muda
“Sheikh Sulaiman mengajarkan bahwa budaya dan agama bukan kontradiksi, tetapi harmoni. Generasi muda Minang—kita diajak meneruskan tradisi berpikir kritis, berdiri tegak di akar budaya, namun terbuka terhadap kemajuan. Jadilah penjaga warisan intelektual ini, dan panjatkan adiknya menjadi literasi zaman.”








