Bajapuik Pariaman: Uang Jemput Penghormatan Pengantin

bajapuik pernikahan

Bajapuik: Tradisi Uang Jemput Pengantin Pria Pariaman

Di Pariaman, Sumatera Barat, adat pernikahan tak hanya diwarnai sirih dan selamet, tapi juga tradisi khas bernama Bajapuik — prosesi menjemput pengantin pria dengan membawa uang atau benda bernilai. Tradisi ini bukan mahar, tapi simbol penghormatan dan tanggung jawab dari pihak mempelai wanita.

Uang Japuik: Simbol Kesepakatan dan Penghormatan

Prosesi dimulai pada acara Batimbang Tando, di mana kedua keluarga sepakat jumlah uang atau barang yang disebut pitih japuik. Nilainya ditentukan berdasarkan status sosial, jabatan, pendidikan, atau ekonomi calon pengantin pria . Bisa berupa uang tunai, emas, hingga perhiasan.

Dulunya berbentuk ringgit atau emas, kini wujudnya lebih modern: cincin, gelang, atau kalung

Tahapan Bajapuik Dalam Adat

  1. Maantaan Asok / Marantak Tanggo – perkenalan keluarga mempelai wanita ke keluarga pria
  2. Batimbang Tando – kesepakatan uang jemputan (pitih japuik).
  3. Bakampuang Kampuangan – penentuan tanggal pernikahan
  4. Manjapuik Marapulai – hari penjemputan pengantin pria dengan uang jemputan diserahkan
  5. Akad Nikah & Baralek – prosesi agama Islam dan resepsi di rumah pihak perempuan.
  6. Agiah Jalang – pengembalian uang jemputan dalam bentuk hadiah bahkan melebihi jumlah awal sebagai simbol penghargaan
  7. Manjalang & Manduo Jalang – kunjungan balasan mempelai ke rumah suami, penyerahan salam, dan penitipan keponakan

Filosofi: Matrilineal dan Tamu yang Dimuliakan

Kekerabatan matrilineal Minangkabau memposisikan mempelai pria sebagai “tamu” dalam rumah istri. Semboyan lokal, “datang karano dipanggia, tibo karano dijapuik”, menegaskan bahwa penghormatan lebih utama daripada kekuasaan
Uang japuik bukan pembelian, melainkan simbol penghormatan atas status pria sebagai marapulai .

Perspektif Agama dan Kearifan Lokal

Kemenag Pariaman menegaskan bahwa bajapuik adalah tradisi adat, bukan ketentuan Islam, jadi tidak bertentangan dengan syariat
Bajapuik terinspirasi dari kisah Nabi Muhammad dan Siti Khadijah, menunjukkan penghormatan Khadijah terhadap Rasulullah sebelum akad pernikahan .

Tantangan dan Pelestarian

Dengan modernisasi, nilai pitih japuik bisa menjadi beban dan menyebabkan tekanan sosial—salah satu pengguna Reddit menyoroti kecemasan terkait tuntutan tinggi dari keluarga
Namun perlindungan budaya terus digaungkan: LKAAM dan pemerintah daerah menyusun regulasi agar adat tetap lestari dan tidak disalahtafsirkan .


Konteks Sejarah & Relevansi Masa Kini

Adat bajapuik terus berkembang. Dahulu berbentuk ringgit emas literal, kini bisa berupa simbol elektronik, namun nilai penghormatan tetap sama. Registrasi adat, edukasi kampus, dan konten kreatif media sosial meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap warisan pernikahan adat.

Minimnya pemahaman sering menimbulkan stigma “pembelian mempelai”, padahal inti Bajapuik adalah penghormatan, bukan transaksi. Ini memegang prinsip “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” .


Ajakan Inspiratif untuk Pembaca Muda

Generasi milenial dan Z di Bukittinggi dan Pariaman—jadikan budaya bukan aksesori, tapi identitas.
Pelajari filosofinya: pahami makna adat sebelum melestarikan.
Dokumentasikan prosesi adat: visual dan cerita bisa jadi konten budaya.
Jaga keseimbangan: hindari beban berlebihan dalam ritual pernikahan.
Dukung edukasi budaya: lewat kampus, komunitas, atau media digital.
Jika menikah dengan adat, lakukan bijak: pertimbangkan kemampuan dan pahami esensi penghormatan.

  • Total page views: 49,395
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor