Festival Tunas Bahasa Ibu Sumbar 2025: Melahirkan Generasi Muda Pencinta Bahasa Minangkabau

Festival Tunas Bahasa Ibu Sumbar 2025

BUKITTINGGI — Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat (BBPSB) kembali menyelenggarakan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025, ajang tahunan bergengsi yang mempertemukan para pelajar sekolah dasar terbaik dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat.

Acara ini berlangsung di Kompleks Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sumatera Barat, dan menjadi puncak dari Program Revitalisasi Bahasa Daerah 2025—sebuah agenda prioritas nasional yang digagas oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Tahun ini, peserta yang tampil merupakan hasil seleksi ketat dari 19 kabupaten dan kota se-Sumatera Barat, yang sebelumnya telah berkompetisi di tingkat daerah. Setiap peserta datang membawa semangat dan kebanggaan untuk mengharumkan nama daerahnya sekaligus memperjuangkan eksistensi bahasa Minangkabau di tengah derasnya arus globalisasi.


Bahasa Ibu Sebagai Identitas dan Kebanggaan

Festival dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Barat, Habibul Fuadi, S.Pd., M.Si., yang dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga bahasa ibu sebagai jati diri dan kebanggaan masyarakat Minangkabau.

“Bahasa Minangkabau adalah identitas dan kebanggaan kita. Generasi muda Minang harus tumbuh dengan rasa cinta pada bahasa ibu mereka,” ujar Habibul Fuadi, Rabu (5/11/2025).

Menurutnya, kegiatan seperti FTBI memiliki makna strategis dalam membentuk karakter pelajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakar pada nilai-nilai budaya daerahnya. Ia menambahkan, pendidikan tidak semata soal literasi dan numerasi, melainkan juga pembentukan identitas dan kebanggaan budaya lokal.


Duta Bahasa Ibu dari Ranah Minang

Sementara itu, Kepala BBPSB, Rahmat, S.Ag., M.Hum., menjelaskan bahwa peserta FTBI bukan sekadar kompetitor lomba, melainkan juga duta pelestarian bahasa daerah.

“Anak-anak yang tampil di FTBI adalah duta bahasa ibu bagi masa depan Sumatera Barat. Mereka akan mewakili provinsi ini di ajang FTBI Tingkat Nasional di Jakarta,” ungkap Rahmat.

Ia menegaskan, tantangan pelestarian bahasa daerah kini semakin besar. Banyak anak-anak yang lebih fasih berbahasa Indonesia atau bahasa asing daripada bahasa daerahnya sendiri. Karena itu, FTBI menjadi salah satu langkah penting dalam menghidupkan kembali minat berbahasa Minangkabau di kalangan generasi muda.


Ragam Lomba dan Antusiasme Peserta

Tahun ini, FTBI mempertandingkan lima cabang utama, yaitu:

  1. Manulih Carito (menulis cerita),
  2. Manulih jo Mambaco Pantun (menulis dan membaca pantun),
  3. Bacarito (bercerita),
  4. Bapidato (berpidato), dan
  5. Badendang (bernyanyi dalam bahasa daerah).

Setiap kategori dirancang tidak hanya untuk mengasah kemampuan berbahasa, tetapi juga menghidupkan seni bertutur khas Minangkabau yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat sejak berabad-abad lalu.

Seluruh penampilan peserta dinilai oleh dewan juri profesional, terdiri atas akademisi, praktisi bahasa, dan seniman lokal. Dari masing-masing cabang, akan dipilih empat pemuncak terbaik — juara I, II, III, dan juara favorit — yang berhak membawa pulang piala, sertifikat, serta penghargaan uang tunai.

Koordinator kegiatan, Fitria Dewi, menuturkan bahwa FTBI bukan sekadar kompetisi biasa.

“FTBI merupakan upaya nyata menumbuhkan kebanggaan berbahasa daerah di ranah Minang yang sarat budaya,” tutupnya.


Menghidupkan Warisan, Menjaga Bahasa

Bahasa Minangkabau bukan sekadar alat komunikasi, tetapi penanda identitas dan peradaban. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai kearifan lokal seperti musyawarah, sopan santun, dan rasa kebersamaan yang terpatri dalam pepatah-pepatah adat.

Melalui FTBI, para pelajar diajak memahami bahwa bahasa ibu adalah warisan yang harus dirawat, bukan ditinggalkan. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan globalisasi, bahasa daerah kerap tergeser oleh dominasi bahasa nasional dan internasional.

Menurut data Badan Bahasa, Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, dan sebagian besar berada di ambang kepunahan jika tidak dilestarikan. Karena itu, inisiatif seperti FTBI menjadi benteng penting dalam mempertahankan keberagaman linguistik nusantara.


Minangkabau dan Tradisi Literasi Lisan

Sejarah mencatat, masyarakat Minangkabau memiliki tradisi literasi lisan yang kuat sejak masa lampau. Kesenian seperti randai, dendang, dan pantun adat adalah bentuk sastra yang mengajarkan moral, sejarah, dan nilai-nilai kehidupan.

FTBI menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Anak-anak yang belajar “baparik basa” atau “bacarito” tidak sekadar menghafal teks, melainkan mewarisi cara berpikir, beretika, dan berkomunikasi khas orang Minang. Dengan begitu, festival ini menjadi ruang bagi lahirnya generasi muda yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan akarnya.


Makna Strategis dalam Pendidikan dan Budaya

Program Revitalisasi Bahasa Daerah yang digagas oleh Kemendikbudristek merupakan salah satu program strategis nasional untuk menjaga keragaman budaya. Melalui pendekatan pendidikan berbasis komunitas, program ini mendorong partisipasi aktif guru, orang tua, dan masyarakat dalam mengenalkan bahasa ibu kepada anak-anak.

Di Sumatera Barat, implementasi program ini terbukti efektif. Banyak sekolah yang kini mulai mengintegrasikan bahasa Minangkabau dalam kegiatan belajar mengajar, baik melalui muatan lokal maupun ekstrakurikuler. FTBI menjadi puncak apresiasi atas kerja keras seluruh pihak yang terlibat dalam proses tersebut.


Warisan untuk Generasi Muda

Pelestarian bahasa ibu bukan hanya tentang nostalgia masa lalu, tetapi tentang menentukan arah masa depan budaya bangsa. Melalui festival ini, generasi muda Minangkabau belajar untuk mencintai akar budayanya tanpa menutup diri terhadap kemajuan zaman.

Mereka tumbuh menjadi individu yang bangga dengan identitasnya, kreatif dalam berbahasa, dan terbuka terhadap dunia. Seperti yang diungkapkan seorang guru pendamping peserta asal Tanah Datar, “Anak-anak sekarang bisa menulis cerita Minang dengan gaya mereka sendiri, tapi tetap memakai bahasa yang diwariskan ninik mamak.”


Ajakan untuk Mencintai Bahasa Daerah

FTBI Sumbar 2025 bukan sekadar lomba, melainkan gerakan kebudayaan. Setiap kata yang diucapkan, setiap cerita yang dituturkan, dan setiap pantun yang dilagukan adalah bentuk cinta terhadap tanah asal.

Generasi muda diharapkan menjadikan kegiatan seperti ini sebagai inspirasi untuk terus melestarikan bahasa daerah melalui karya sastra, media sosial, maupun kegiatan komunitas. Sebab, bahasa daerah bukan hanya milik masa lalu, melainkan bagian dari masa depan Indonesia yang beragam dan berbudaya.

  • Total page views: 48,443
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor