Penghargaan Nasional untuk Maestro Musik Tradisional
Pada malam 1 Agustus 2025, di panggung utama Pitunang Ethnogroove yang berlangsung dalam Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) di Lapangan Stadion Ateh Ngarai, Bukittinggi, tiga tokoh penting musik tradisi menerima penghargaan Anugerah Maestro dari Kementerian Kebudayaan RI: Golou Tasirikeru (Mentawai), Mak Lenggang alias M. Halim (Minangkabau, saluang), dan Amril Agam ‘Gamad’ (genre musik Gamad khas Minangkabau)
Acara tersebut turut dihadiri Menteri Kebudayaan Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., serta pejabat daerah seperti Wali Kota Bukittinggi H.M. Ramlan Nurmatias dan Wakil Wali Kota Ibnu Asis
Apresiasi Resmi dari Pemerintah
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menyampaikan:
“Anugerah ini adalah bentuk apresiasi negara atas kiprah para maestro dalam menjaga nyala kebudayaan musik tradisi di tengah arus perubahan zaman,”
Ia juga menekankan bahwa dedikasi para maestro menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekosistem musik Indonesia yang inklusif, berbasis komunitas, dan kaya nilai lokal.
Sosok Maestro dan Perannya
- Golou Tasirikeru dikenal sebagai pelopor pelestarian musik Mentawai yang minim sorotan nasional.
- Mak Lenggang (M. Halim) menjadi tokoh penguat napas saluang tradisional Minangkabau melalui ajar dan pentas selama puluhan tahun.
- Amril Agam ‘Gamad’ dinobatkan atas dedikasinya menjaga eksistensi genre Gamad, musik khas Minangkabau yang kini mulai tergeser oleh modernisasi
Menurut Direktur Festival Pitunang Ethnogroove, Indra Arifin, penghargaan ini bukan simbol semata, melainkan dorongan nyata bagi regenerasi dan pelestarian. Ia berharap kisah hidup maestro menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk meneruskan dan menghidupkan musik tradisi.
Spirit Pitunang Ethnogroove: Tradisi Bertemu Inovasi
Festival Pitunang Ethnogroove dilaksanakan sebagai penghubung antara warisan budaya dan inovasi kontemporer. Penampilan kolaboratif musisi lokal dan nasional menciptakan suasana dialog antar generasi, antara tradisi dan nuansa masa kini
Acara ini menghadirkan sejumlah grup dan seniman seperti MJ Project, Ragam Raso, Silek Galombang, Saandiko, serta penampilan Gamad dari Amril Agam sendiri
Sinergi Pemerintah & Komunitas Budaya
Pemerintah Kota Bukittinggi menyambut festival ini dengan hangat. Wali Kota dan Wakil Wali Kota hadir bersama pejabat lokal, mendampingi langsung acara penganugerahan. Mereka menegaskan bahwa musik tradisi adalah modal diplomasi budaya yang mampu mengangkat citra Indonesia di dunia global
Dampak Penghargaan bagi Budaya Lokal
Beberapa manfaat strategis dari penguatan apresiasi ini antara lain:
- Pengakuan nasional untuk seniman akar rumput, membuka ruang pertunjukan dan pendanaan.
- Mendorong regenerasi kreatif melalui figur inspiratif.
- Memperkuat identitas kotaan sebagai pusat budaya tradisi.
- Edukasi publik tentang nilai budaya yang berakar kuat pada tradisi masyarakat.
- Membangun jejaring komunitas seni lintas daerah dan generasi.
Tantangan & Peluang Pengembangan
Agar momentum ini berkelanjutan, beberapa hal perlu diperhatikan:
- Penyediaan wadah reguler bagi pertunjukan lokal, baik di festival maupun ruang publik.
- Pelibatan sekolah dan generasi muda agar musik tradisi menjadi bagian pembelajaran kreatif.
- Pembinaan seniman lokal agar mampu bertahan secara ekonomi dan berkarya.
- Kurasi kualitas pertunjukan agar tidak sekadar hiburan, tetapi semakin edukatif dan bermakna.
Fakta Sejarah & Peta Konteks Masa Kini
- Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) digelar secara bergilir di Lampung, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, dan Jawa Tengah termasuk di Bukittinggi pada tahun ini
- Pitunang Ethnogroove bermakna dialog antara tradisi dan kreativitas kontemporer, didesain sebagai festival yang inklusif dan modern.
- Bukittinggi sebagai kota budaya dengan ikon Jam Gadang sejak lama menjadi pusat pelestarian seni Minangkabau — mulai randai, saluang, hingga gamad—yang terus dipertahankan lewat kegiatan seni digital dan tradisional.
Relevansi bagi Generasi Muda
Bagi generasi milenial dan Gen Z, kisah para maestro ini bukan hanya cerita masa lalu, tetapi panggilan untuk bertindak sekarang:
- Mereka adalah contoh nyata dedikasi, kerja keras, dan cinta budaya.
- Generasi muda kota Bukittinggi dan sekitarnya diharapkan aktif bergiat dalam pelestarian budaya lewat kreasi seni, kolaborasi komunitas, dan pertunjukan publik.
- Adanya penghargaan menandakan bahwa karya tradisional tetap relevan dan diapresiasi secara nasional.
Pesan Inspiratif untuk Pembaca Muda
Kalau bukan sekarang, kapan lagi kita melestarikan warisan budaya? Belajar dari Golou Tasirikeru, Mak Lenggang dan Amril Agam: dedikasi kecil bisa memberi makna besar bagi identitas kita. Mari dukung seniman lokal, hadirkan musik tradisi dalam hidup, dan tularkan rasa cinta budaya ke sekitar. Jadilah bagian regenerasi yang menjaga napas seni kita tetap hidup dan berdaya.








