Bukittinggi – Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan KB (P3AP2KB) menggelar sosialisasi sekaligus psikoedukasi terkait pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di era digital.
Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (20/8/2025) ini menjadi ruang edukasi penting bagi orang tua ABK, khususnya dalam memahami tantangan baru yang muncul seiring perkembangan teknologi informasi.
Kepala Dinas P3AP2KB Bukittinggi, Dewi Novita, menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar untuk memperkuat kapasitas orang tua dan keluarga dalam mendampingi anak-anak mereka.
“Kami ingin memberikan pemahaman bahwa pengasuhan di era digital memiliki tantangan berbeda. Orang tua harus mampu mendampingi, mengawasi, sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai sarana yang mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Dewi.
Tantangan Era Digital bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Dalam psikoedukasi ini, narasumber memaparkan bahwa anak berkebutuhan khusus sering kali lebih rentan terhadap pengaruh negatif digital, baik dari sisi konten maupun interaksi sosial di dunia maya. Jika tidak diawasi dengan baik, hal ini dapat memengaruhi perkembangan psikologis dan sosial mereka.
Karena itu, peran orang tua menjadi kunci utama. Mereka tidak hanya dituntut untuk memahami teknologi, tetapi juga harus hadir secara emosional, memberikan dukungan, serta menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi anak.
Dukungan Psikologis dan Pendekatan Praktis
Kegiatan ini juga menghadirkan tenaga ahli di bidang psikologi dan pendidikan khusus. Mereka memberikan tips praktis dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus, mulai dari cara mengatur penggunaan gawai, strategi komunikasi yang efektif, hingga bagaimana menanamkan kebiasaan positif di rumah.
Salah seorang narasumber menekankan bahwa penggunaan teknologi seharusnya tidak dihindari, melainkan diarahkan. Orang tua bisa memanfaatkan aplikasi edukasi, media pembelajaran interaktif, hingga platform terapi online sebagai sarana mendukung perkembangan anak.
“Digitalisasi bukan untuk dihindari, tetapi diarahkan agar memberi manfaat. Kuncinya ada pada pendampingan orang tua,” ungkap salah seorang psikolog dalam kegiatan tersebut.
Komitmen Pemerintah Kota Bukittinggi
Dinas P3AP2KB Bukittinggi berkomitmen menjadikan kegiatan ini sebagai program berkelanjutan. Selain sosialisasi, akan ada pendampingan rutin dan pelatihan khusus bagi orang tua yang membutuhkan bimbingan lebih intensif.
Program ini juga selaras dengan visi Kota Bukittinggi sebagai kota ramah anak, di mana setiap anak, termasuk ABK, memiliki hak yang sama untuk berkembang secara optimal.
Konteks Sejarah dan Masa Kini
Isu perlindungan anak, khususnya ABK, sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sejak keluarnya Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 yang kemudian diperbarui menjadi UU Nomor 35 Tahun 2014, negara menegaskan kewajiban memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Di era digital seperti sekarang, kebijakan ini semakin relevan. Data UNICEF menunjukkan bahwa lebih dari 30% anak-anak Indonesia mengakses internet setiap hari. Angka ini tentu berdampak besar pada pola asuh, terutama bagi ABK yang membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan anak pada umumnya.
Bukittinggi, sebagai kota pendidikan dan budaya, memiliki peluang besar untuk menjadi contoh dalam pengelolaan program inklusif berbasis keluarga dan teknologi. Langkah konkret seperti psikoedukasi ini menjadi pijakan awal untuk menciptakan generasi yang lebih adaptif dan berdaya.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Kegiatan ini tidak hanya relevan untuk orang tua ABK, tetapi juga menjadi pesan penting bagi generasi muda. Bahwa teknologi, jika digunakan dengan bijak, bisa menjadi jembatan menuju kebaikan. Namun, tanpa kontrol dan pendampingan, ia bisa berubah menjadi tantangan besar.
Anak muda yang kini tumbuh bersama teknologi seharusnya juga memiliki kesadaran sosial untuk mendukung teman sebaya yang memiliki kebutuhan khusus. Kehadiran mereka sebagai sahabat, teman belajar, atau bahkan relawan bisa memberikan dampak luar biasa bagi tumbuh kembang ABK.
Penutup
Psikoedukasi ini menjadi bukti nyata bahwa pengasuhan anak, terutama ABK, adalah tanggung jawab bersama. Orang tua, pemerintah, tenaga ahli, hingga generasi muda memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif.
Bagi kita semua, pesan ini penting: teknologi hanyalah alat. Yang membuatnya bermanfaat adalah cara kita menggunakannya. Mari jadikan era digital bukan sebagai hambatan, melainkan peluang untuk mendidik anak-anak dengan penuh cinta dan kesabaran.








