Sumbar Siaga Karhutla: 75 Hektare Lahan Terbakar di Bulan Juni
Padang – Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) kini berada dalam status siaga tinggi terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sepanjang Juni 2025, tercatat 35 insiden karhutla, dan total luas lahan yang terbakar mencapai ±75 hektare, menurut data dari Dinas Kehutanan Sumbar
Puncak Musim Kemarau, Titik Panas Melesat
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Sumbar akan terjadi Juli–Agustus 2025, meningkatkan risiko karhutla di wilayah rawan. Sepanjang Januari hingga Juli, terjadi total 43 kejadian karhutla; 85% di antaranya (35 kejadian) terjadi hanya sepanjang Juni
Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, menjelaskan bahwa titik api melonjak pada Juni, dari 165 hotspot di April menjadi sekitar 700 titik panas
Dampak Luas: 75 Hektare Lahan Terbakar
Menurut Ferdinal, luas lahan yang terbakar mencapai 75 hektare, dominan berada di Areal Penggunaan Lain (APL) seperti pertanian dan perkebunan, bukan di dalam hutan lindung
Di Limapuluh Kota, luas karhutla di daerah Harau hingga Tarantang menyentuh 40 hektare, dengan titik api mendekati permukiman warga. Sementara itu, 5–6 hektare lainnya terjadi di kawasan Harau dalam beberapa peristiwa pada akhir Juni
Penyebab: Pembukaan Lahan dengan Cara Dibakar
Sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan untuk pertanian dengan cara dibakar. Ferdinal menyebut 85% kejadian berkaitan dengan pembukaan lahan bukan hutan
Kemudahan penyebaran api di lahan gambut dan APL menjadikan karhutla sebagai ancaman besar, terutama saat udara panas dan angin kencang.
Tantangan Lapangan: Medan Sulit & Akses Terbatas
BPBD, bersama TNI, Polri, Damkar, dan masyarakat telah dikerahkan untuk pemadaman. Namun medan yang terjal terutama di daerah Harau membuat tugas pemadaman menjadi sangat berat.
Menurut Kepala BPBD Limapuluh Kota, Rahmadinol, wilayah pegunungan berbatu membuat tim kesulitan melakukan pemadaman manual
Upaya Resmi: Posko Siaga & Kampanye Pencegahan
Menjelang puncak kemarau, Pemprov Sumbar dan Dishut telah membuka posko siaga karhutla di berbagai kabupaten/kota. Program sosialisasi larangan pembakaran lahan sedang gencar disebarluaskan oleh pemerintah daerah
Selain itu, dibentuk brigade khusus dan diperkuat patroli hotspot guna deteksi dini dan penanganan cepat saat titik api terpantau.
Dampak Sosial & Ekologis
Karhutla tidak hanya menghanguskan lahan, namun juga:
- Meningkatkan polusi udara dan gangguan pernapasan bagi masyarakat.
- Mengancam sarana air dan ekosistem lokal, terutama di daerah perkebunan dan hutan lindung.
- Menurunkan produktivitas sektor pertanian dan ekonomi lokal.
Fakta Tambahan & Konteks Global
- Hotspot Juni 2025: sekitar 700 titik panas di 19 kabupaten/kota
- Area terbakar tahun ini: diperkirakan mencapai 75 hektare
- Hotspot di Limapuluh Kota: 40 hektare, sebagian mendekati pemukiman
- Kesulitan medan: bukit terjal menjadi penghalang utama pemadaman
- 85 % penyebab: kebakaran akibat pembukaan lahan, bukan alami
Pesan Inspiratif
Karhutla bukan hanya tantangan hari ini, tapi warisan bagi masa depan anak cucu. Generasi muda, mari ambil bagian aktif—edukasi masyarakat, terlibat dalam patroli lokal, dan kampanye ‘bebas api’ adalah bentuk nyata peran Anda.








