​Wali Kota Bukittinggi dan GIZ Jerman Bahas Pengurangan Emisi dan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan​

Wako Ramlan dan GIZ Jerman

Bukittinggi, 23 April 2025 — Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menerima kunjungan dari perwakilan Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Jerman di Balai Kota Bukittinggi pada Selasa (22/4). Pertemuan ini membahas kerja sama dalam upaya pengurangan emisi kota melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

GIZ, lembaga milik pemerintah federal Jerman yang berfokus pada kerja sama pembangunan dan teknis, menyampaikan rencana studi pra-kelayakan pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Teknologi RDF mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan, diharapkan dapat menjadi solusi konkret terhadap permasalahan persampahan di kota-kota berkembang, termasuk Bukittinggi. ​

Wali Kota Ramlan menyambut positif inisiatif tersebut dan menekankan perlunya langkah konkret dalam menyelesaikan masalah sampah di kota Bukittinggi. “Sampah bukan lagi masalah daerah, tetapi sudah masalah nasional. Jadi kita perlu juga langkah yang dapat menyelesaikan masalah sampah, seperti program dari GIZ ini,” ucap Ramlan.

Pengimplementasian rencana kerja sama ini ditargetkan berjalan hingga Juni 2025, dengan pelatihan untuk delegasi kota direncanakan pada Mei mendatang. Pelatihan tersebut akan mencakup pengelolaan sampah dari segi anggaran serta teknis.

Program ini merupakan bagian dari Proyek Pengurangan Emisi di Perkotaan melalui Peningkatan Pengelolaan Sampah (ERiC DKTI), kerja sama antara Kementerian PPN/Bappenas dan Pemerintah Jerman melalui GIZ. Proyek ini bertujuan mendukung perencanaan dan pengembangan pengelolaan sampah terintegrasi dari hulu ke hilir dengan memperbaiki kondisi pendukung di tingkat nasional dan kota/kabupaten pilot, termasuk Bukittinggi.

Dalam proyek ini, enam faktor pengungkit reformasi pengelolaan sampah telah dirumuskan, yaitu perencanaan berkualitas, data persampahan aktual dan akurat, kapasitas pemangku kepentingan, kelembagaan pengelolaan sampah inklusif, pendanaan kuat, dan mekanisme pengikat. Faktor-faktor ini dirancang untuk memperkuat aspek non-teknis persampahan, mulai dari perencanaan, pendanaan, kelembagaan, hingga pengelolaan data. ​

Dengan kerja sama ini, diharapkan Bukittinggi dapat menjadi percontohan dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, mengurangi emisi kota, dan menciptakan lingkungan yang inklusif. Langkah ini juga sejalan dengan upaya nasional dalam mencapai pembangunan rendah karbon dan ekonomi sirkular.

Informasi Tambahan:

  • Refuse Derived Fuel (RDF): Teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat digunakan untuk pembangkit listrik atau industri, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).​
  • GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit): Lembaga milik pemerintah federal Jerman yang berfokus pada kerja sama pembangunan dan teknis di berbagai bidang, termasuk lingkungan, energi, dan pengelolaan sampah.​
  • ERiC DKTI: Proyek kerja sama antara Kementerian PPN/Bappenas dan Pemerintah Jerman melalui GIZ yang bertujuan mendukung pengurangan emisi di perkotaan melalui peningkatan pengelolaan sampah.

Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan Bukittinggi dapat menjadi kota percontohan dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

  • Total page views: 48,677
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor