Serunya Berkuda di Pacuan Kuda Bukik Ambacang: Keindahan, Sejarah, dan Tradisi Pacuan Kuda Tertua di Indonesia

pacuan kuda bukit ambacang

Menelusuri Pesona Desa Wisata Bukik Ambacang: Keindahan, Sejarah, dan Tradisi Pacuan Kuda Tertua di Indonesia

Bukittinggi, Kota Pariwisata – Wisata Pacuan Kuda Bukik Ambacang, yang terletak di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, merupakan salah satu destinasi wisata unggulan yang menawarkan keindahan alam, budaya, dan pengalaman unik. Dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ambacang Saiyo berdasarkan keputusan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Bukittinggi, desa wisata ini semakin populer sebagai tujuan rekreasi yang memadukan pesona alam dan sejarah.

Keindahan Alam dan Sensasi Berkuda di Bukik Ambacang

Di Bukik Ambacang, pengunjung akan dimanjakan oleh pemandangan hijau perbukitan yang memikat hati. Desa ini dikenal sebagai tempat yang sempurna untuk melepaskan penat, terutama bagi wisatawan yang ingin bersantai di tengah suasana asri khas Minangkabau. Selain itu, daya tarik utama lainnya adalah pengalaman berkuda yang menjadi ikon wisata desa ini.

Menunggang kuda di Bukik Ambacang memberikan sensasi tersendiri. Para pengunjung dapat merasakan bagaimana tradisi pacuan kuda yang telah mendarah daging di kawasan ini tetap terjaga hingga kini. Wisata berkuda juga menjadi salah satu daya tarik bagi generasi muda yang ingin mencoba pengalaman baru.

Sejarah Panjang Lapangan Pacuan Kuda Bukik Ambacang

Lapangan pacuan kuda di Bukik Ambacang bukan hanya fasilitas olahraga biasa; ini adalah salah satu warisan sejarah tertua di Indonesia. Dibangun pada tahun 1903, lapangan ini memiliki keunikan karena berada di bawah administrasi dua daerah sekaligus, yakni Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

Seorang pengelola dari Pokdarwis Ambacang Saiyo menjelaskan: “Kami memiliki lapangan pacuan kuda yang unik karena dimiliki dua daerah yaitu Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam. Ini merupakan pacuan kuda tertua di Indonesia.”

Foto lama lapangan ini menampilkan gambaran yang berbeda dari masa sekarang. Gambar yang telah diberi warna itu memperlihatkan suasana di awal abad ke-20, dengan tiga bangunan utama di sekitar lapangan, termasuk tribun utama yang kala itu bertingkat dua dan sebagian besar dibuat dari kayu. Kini, tribun tersebut telah mengalami renovasi, sehingga hanya tersisa satu tingkat dengan struktur batu di bagian bawahnya.

Lapangan Multifungsi yang Sarat Makna

Selain sebagai lokasi pacuan kuda, lapangan ini juga berfungsi untuk berbagai kegiatan lainnya. Di era 1990-an, lapangan ini pernah menjadi tempat untuk acara motorcross hingga tabligh akbar yang diisi oleh ulama terkenal seperti KH. Zainudin MZ. Baru-baru ini, Buya Abdul Somad juga sempat menggelar tabligh di tempat ini.

“Dahulu, tribun utamanya berbentuk bertingkat dua. Namun, sejak tahun 2020-an, bentuknya telah berubah menjadi satu tingkat saja,” kenang seorang warga setempat.

Pada masa lampau, jalan di sekitar lapangan belum beraspal, dan bendi—kereta kuda tradisional—ramai parkir di sekitarnya. Kini, jalan-jalan tersebut telah berubah, dipenuhi kendaraan modern seperti mobil dan sepeda motor, tetapi esensi budaya lokal tetap terasa.

Bukik Ambacang: Simbol Kebanggaan dan Pusat Wisata Edukasi

pacuan kuda bukit ambacang 1

Wisata Pacuan Kuda Bukik Ambacang tidak hanya menawarkan pengalaman rekreasi, tetapi juga menyimpan nilai edukasi yang tinggi. Dengan mengenalkan tradisi pacuan kuda dan sejarahnya kepada generasi muda, desa ini menjadi pusat pembelajaran yang kaya akan budaya lokal.

Pokdarwis Ambacang Saiyo terus berupaya menjaga kelestarian desa ini melalui berbagai inovasi. Salah satunya adalah memperkenalkan wisata edukasi tentang sejarah pacuan kuda serta tradisi masyarakat Minangkabau kepada wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Tips Berkunjung ke Bukik Ambacang

Bagi Anda yang tertarik mengunjungi Wisata di Pacuan Kuda Bukik Ambacang, berikut beberapa tips agar perjalanan Anda lebih menyenangkan:

  1. Datang di Pagi Hari: Udara sejuk Bukittinggi terasa lebih menyegarkan di pagi hari, cocok untuk menikmati pemandangan.
  2. Coba Sensasi Berkuda: Jangan lewatkan pengalaman unik ini yang menjadi ciri khas desa.
  3. Bawa Kamera: Abadikan momen Anda, terutama di sekitar lapangan pacuan kuda yang memiliki nilai sejarah.
  4. Ikuti Agenda Lokal: Jika beruntung, Anda bisa menyaksikan acara tradisional seperti pacuan kuda atau tabligh akbar.

Akses Menuju Pacuan Kuda Bukik Ambacang

Desa ini dapat diakses dengan mudah dari pusat Kota Bukittinggi. Pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi, ojek, atau transportasi umum. Anda bisa akses lokasi disini: https://g.co/kgs/yiLVZy7

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Bukik Ambacang dan destinasi wisata lainnya di Bukittinggi, Anda dapat mengunjungi situs KotaBukittinggi.com atau menghubungi email admin@kotabukittinggi.com.

Kesimpulan

Bukik Ambacang adalah destinasi yang menawarkan kombinasi sempurna antara keindahan alam, sejarah, dan budaya. Dengan warisan seperti lapangan pacuan kuda tertua di Indonesia, desa ini bukan hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Bukittinggi. Jadi, jika Anda mencari pengalaman wisata yang autentik di Sumatera Barat, Bukik Ambacang adalah pilihan yang tidak boleh dilewatkan.

  • Total page views: 50,097
WhatsApp
Facebook
Email

Informasi Terbaru

Pilihan Editor