Gunung Marapi, salah satu gunung berapi paling aktif di Sumatera Barat, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada Selasa pagi, 27 Mei 2025. Erupsi terjadi pada pukul 08.22 WIB, dengan kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 1.100 meter di atas puncak gunung. Abu vulkanik berwarna kelabu dengan intensitas tebal ini condong ke arah tenggara, menyebar ke berbagai wilayah sekitarnya.
Akibat erupsi tersebut, lima daerah di Sumatera Barat terdampak hujan abu vulkanik, yaitu Tanah Datar, Agam, Padang Panjang, Bukittinggi, dan Sawahlunto. Juru Bicara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Ilham Wahab, menyatakan, “Ada lima daerah yang terpantau terdampak abu vulkanik Marapi yang meletus tadi pagi.”
BPBD Sumbar telah mengimbau masyarakat di daerah terdampak untuk menggunakan masker guna menghindari dampak negatif dari abu vulkanik. Ilham menambahkan, “Kami telah mengimbau warga melalui BPBD kabupaten dan kota agar menggunakan masker di daerah hujan abu.” Meskipun intensitas hujan abu mulai menipis pada siang hari, warga diminta tetap waspada dan menjaga kesehatan.
Sejarah Aktivitas Gunung Marapi
Gunung Marapi memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik. Sejak abad ke-18, gunung ini telah mengalami beberapa kali erupsi signifikan, dengan erupsi besar tercatat pada tahun 1807, 1822, 1926, dan 1979. Erupsi tahun 1979 merupakan salah satu yang paling dahsyat, menyebabkan kerusakan parah pada lahan pertanian dan permukiman di sekitarnya.
Menurut catatan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Marapi memiliki pola erupsi dengan periode istirahat rata-rata 3,5 tahun, dengan masa istirahat terpendek kurang dari 1 tahun dan terlama 17 tahun. Sejak awal tahun 1987, erupsinya bersifat eksplosif yang berpusat di Kawah Verbeek.
Dampak Terhadap Masyarakat dan Lingkungan
Erupsi Gunung Marapi tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat akibat abu vulkanik, tetapi juga mempengaruhi aktivitas ekonomi dan sosial di daerah terdampak. Sektor pertanian, yang menjadi mata pencaharian utama sebagian besar penduduk, terancam oleh abu vulkanik yang dapat merusak tanaman. Selain itu, aktivitas transportasi dan pariwisata juga terganggu akibat penurunan jarak pandang dan kekhawatiran akan keselamatan.
Pemerintah daerah bersama BPBD dan instansi terkait terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Marapi dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dari pihak berwenang, dan tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
Kesimpulan
Erupsi Gunung Marapi pada 27 Mei 2025 menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana. Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat, diharapkan dampak dari erupsi ini dapat diminimalisir dan keselamatan warga tetap terjaga.








