BUKITTINGGI, kotabukittinggi.com – Pemerintah Kota Bukittinggi terus mematangkan persiapan perayaan Satu Abad Jam Gadang yang akan jatuh pada Juni 2026 mendatang. Tidak tanggung-tanggung, Wali Kota Bukittinggi melakukan langkah diplomasi strategis dengan menemui Duta Besar Belanda untuk Indonesia di Jakarta guna memperkuat aspek sejarah dan budaya dalam peringatan akbar tersebut.
Langkah ini diambil mengingat Jam Gadang yang dibangun pada tahun 1926 merupakan karya arsitek lokal Yazid Rajo Mangkuto, namun mesin penggeraknya merupakan hadiah dari Sekretaris Kota (Controleur) Fort de Kock (Bukittinggi) kala itu, Rookmaaker.
Fokus Diplomasi: Arsip Sejarah dan Pariwisata
Berdasarkan rangkuman dari berbagai sumber otoritas pemko, ada tiga poin utama yang menjadi fokus dalam pertemuan diplomasi tersebut:
- Pertukaran Arsip Sejarah: Pemko Bukittinggi berharap mendapatkan akses terhadap dokumen, foto, maupun cetak biru asli pembangunan Jam Gadang yang tersimpan di arsip nasional Belanda. Hal ini bertujuan untuk melengkapi data sejarah yang akan dipamerkan dalam museum mini atau pameran khusus saat perayaan satu abad nanti.
- Kerjasama Pelestarian Kota Pusaka: Mengingat Bukittinggi masuk dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), kolaborasi dengan Belanda diharapkan mampu memberikan masukan teknis mengenai tata kelola bangunan heritage (warisan budaya) agar tetap awet namun tetap fungsional di era modern.
- Promosi Wisata Internasional: Perayaan 100 tahun Jam Gadang ditargetkan menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa. Diplomasi ini diharapkan dapat membuka pintu bagi promosi pariwisata Sumatera Barat di mata dunia.
Jam Gadang: Simbol Persahabatan Dua Bangsa
Wali Kota Bukittinggi menegaskan bahwa perayaan satu abad ini bukan untuk mengagungkan masa kolonial, melainkan untuk menghargai warisan arsitektur dan sejarah panjang yang membentuk jati diri kota.
“Jam Gadang adalah saksi sejarah yang unik. Mesinnya dari Jerman, yang memberikan Belanda, dan yang membangun adalah putra asli Minangkabau. Ini adalah simbol kolaborasi dunia yang ada di jantung Kota Bukittinggi,” ungkap Wali Kota dalam keterangannya pasca pertemuan.
Duta Besar Belanda menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan ketertarikannya untuk ikut menyemarakkan peringatan satu abad Jam Gadang. Kerja sama ini diharapkan tidak hanya berhenti pada seremoni, tetapi juga berlanjut pada pengembangan sektor ekonomi kreatif di Bukittinggi.
Pojok Analisis: Dampak bagi Bukittinggi
(Oleh Redaksi kotabukittinggi.com)
Langkah jemput bola yang dilakukan Wali Kota ini adalah strategi cerdas. Dengan melibatkan pihak Belanda, kredibilitas perayaan “Satu Abad Jam Gadang” akan meningkat ke level internasional. Bagi warga lokal, ini adalah peluang besar; mulai dari okupansi perhotelan yang diprediksi penuh, hingga bangkitnya sektor kuliner dan UMKM kerajinan tangan.
Tugas kita sekarang adalah menjadi tuan rumah yang ramah dan menjaga kebersihan kota agar predikat “Kota Wisata Terbersih” tetap terjaga saat tamu-tamu dunia datang berkunjung.








