Bukittinggi kembali menunjukkan denyut kepeduliannya terhadap isu kemanusiaan dunia. Sabtu malam (18/10), Lapangan Kantin Bukittinggi dipenuhi lautan manusia dalam konser amal bertajuk Bukittinggi Bersuara untuk Palestina, hasil kolaborasi Pemerintah Kota Bukittinggi, Qupro Indonesia, dan Lembaga Aksi Kemanusiaan Indonesia (AKSI).
Dipimpin langsung oleh Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, dan Wakil Wali Kota Ibnu Asis, kegiatan ini menjadi simbol nyata solidaritas masyarakat Bukittinggi terhadap perjuangan rakyat Palestina.
“Bukittinggi ikut merasakan duka mendalam atas penderitaan saudara kita di Palestina…,” ujar Ramlan dalam orasinya.
Selain menyampaikan orasi penuh semangat, Wali Kota juga menegaskan bahwa aksi ini merupakan panggilan nurani untuk membela hak-hak kemanusiaan. Semangat Bukittinggi, katanya, selaras dengan komitmen Indonesia yang selalu menyuarakan dukungan bagi kemerdekaan Palestina di forum internasional.
Kegiatan berlangsung penuh haru dan semangat. Wali Band, dengan energi khasnya, berhasil menghidupkan suasana lewat lagu-lagu bernuansa kemanusiaan dan persaudaraan. Di tengah lantunan musik, pesan perdamaian menggema kuat.
Penggalangan dana yang dilakukan malam itu berhasil mengumpulkan lebih dari Rp815 juta. Seluruh dana akan disalurkan melalui lembaga resmi untuk membantu rakyat Palestina yang masih berjuang di tengah konflik berkepanjangan.
Bagi masyarakat Bukittinggi, acara ini bukan hanya konser, melainkan refleksi nilai kemanusiaan yang diwariskan para pejuang bangsa. Sebagai “Kota Perjuangan”, Bukittinggi dikenal memiliki semangat solidaritas yang tinggi, terutama dalam isu-isu global yang menyentuh nilai kemerdekaan dan kemanusiaan.
Semangat ini seolah menghidupkan kembali napas sejarah kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan darurat saat masa kemerdekaan Indonesia. Kini, semangat perjuangan itu diterjemahkan dalam bentuk aksi nyata untuk sesama bangsa tertindas di belahan dunia lain.
Generasi muda Bukittinggi pun diharapkan dapat mengambil pelajaran dari kegiatan ini — bahwa solidaritas tidak mengenal batas negara, agama, maupun budaya. Di tengah era digital yang penuh distraksi, aksi nyata seperti ini menjadi wujud bahwa empati masih hidup di hati anak bangsa.
Mari kita terus bersuara untuk kemanusiaan, menebar kasih dan kepedulian tanpa henti. Bukittinggi sudah memberi contoh, kini giliran kita di mana pun berada untuk meneruskan getaran itu








