Bukittinggi – Pemerintah Kota Bukittinggi mengambil langkah serius mengantisipasi potensi kejadian luar biasa (KLB) campak dengan mengintensifkan layanan imunisasi di sekolah dan fasilitas kesehatan.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin kasus campak berkembang menjadi wabah besar. “Kasus campak, jangan menjadi KLB. Sudah datang perwakilan World Health Organization (WHO) ke Bukittinggi. Ada temuan 56 orang terjangkit,” ujarnya, Sabtu (4/10).
Edukasi dan Tantangan di Lapangan
Ramlan mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua. Ia menyesalkan masih ada warga yang menolak imunisasi, bahkan di satu sekolah tercatat tidak ada satupun murid yang bersedia divaksin. “Masih ada juga satu sekolah yang satupun tidak mau anaknya divaksin. Edukasi penyebaran virus terlalu mudah perlu ditingkatkan ke masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, rendahnya cakupan imunisasi disebut berisiko besar memicu wabah. Ramlan mencontohkan kasus di Madura yang menyebabkan 20 kematian akibat campak. “Saat ini kasus campak meningkat di berbagai wilayah di Indonesia. Kita tidak ingin seperti di Madura,” katanya.
Tindakan Cepat Dinas Kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi, Ramli Andrian, menjelaskan pihaknya telah menurunkan tim ke berbagai sekolah. “Dari 56 warga yang terjangkit, sudah dilakukan pengambilan sampel darah dan diperiksa di labor khusus Kementerian Kesehatan di Jakarta,” ujarnya.
Sebagai bentuk keseriusan, Pemkot Bukittinggi juga mengeluarkan surat edaran wajib imunisasi campak nomor 400.7/968/DKK-P2P-SURV.SE/2025. Data sementara menunjukkan tiga kelurahan paling terdampak yakni Pakan Kurai, Tarok Dipo, dan Campago Guguak Bulek.
Ancaman Serius, Perlindungan Nyata
Pakar kesehatan anak menyebut campak termasuk penyakit menular yang mudah menyebar di lingkungan padat penduduk. Imunisasi terbukti mampu menekan angka kesakitan dan kematian, sekaligus memperkuat kekebalan kelompok (herd immunity).
Bagi Bukittinggi, penguatan layanan kesehatan menjadi sangat penting mengingat kota ini juga menjadi salah satu destinasi wisata utama di Sumatera Barat. Lonjakan kunjungan wisatawan tanpa perlindungan kesehatan memadai bisa meningkatkan risiko penularan penyakit menular.
Belajar dari Sejarah dan Masa Kini
Dalam catatan sejarah, penyakit campak sudah lama menjadi ancaman kesehatan global. WHO bahkan menargetkan eliminasi campak di Asia Tenggara pada 2026. Namun tantangan berupa rendahnya partisipasi masyarakat masih terjadi, termasuk di beberapa daerah Indonesia.
Bukittinggi, yang dikenal sebagai kota perjuangan dan pusat pendidikan, kini menghadapi tantangan baru di sektor kesehatan masyarakat. Langkah preventif melalui imunisasi massal menjadi strategi penting agar kota ini tetap aman dan nyaman, baik bagi warga maupun wisatawan.
Ajakan untuk Generasi Muda
Kesadaran generasi muda sangat dibutuhkan untuk melawan hoaks dan misinformasi terkait vaksin. Anak muda bisa menjadi agen edukasi di lingkungan keluarga dan komunitas. Dengan literasi kesehatan yang baik, mereka bisa membantu menjaga keselamatan masyarakat luas.
Pesan penting dari Pemkot Bukittinggi jelas: kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Mari lindungi diri, keluarga, dan lingkungan dengan mengikuti imunisasi. Karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.








