Pemkot Bukittinggi Pimpin Rakor Percepatan Stunting
Pemerintah Kota Bukittinggi melalui DP3APPKB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting pada hari Senin, 5 Mei 2025 di Aula Balai Kota. Rakor resmi dibuka oleh Wali Kota Ramlan Nurmatias sebagai bentuk keseriusan dalam menekan angka stunting di kota wisata ini.
Rakor melibatkan berbagai pemangku kepentingan—dinas kesehatan, BKKBN, TP PKK, kader posyandu, instansi pendidikan hingga pihak swasta—dalam membahas strategi konkrit percepatan penurunan stunting.
Data Terkini dan Target yang Diusung Pemerintah
Data berdasarkan sistem e‑PPGBM (Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) menyebut angka prevalensi stunting Bukittinggi per Agustus 2024 mencapai 10,3% . Angka ini sudah berada di bawah target RPJMN (<14%), dan mendekati target RPJMD Sumbar yaitu 10% pada 2026
Pjs Wali Kota Hani Syopiar Rustam menyampaikan:
“Data terakhir angka prevalensi stunting Bukittinggi, berdasarkan data dari elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e‑PPGBM) berada pada 10,3 persen. Angka tersebut, sesuai dengan target RPJMN, yaitu di bawah 14 persen”
Fokus Intervensi Program dan Pendekatan Terpadu
Dalam rakor, Pemkot merumuskan langkah intervensi yang berbasis pendekatan konvergensi sektoral. Antara lain:
- Program door-to-door melibatkan posyandu dan kader lokal untuk pendataan langsung dan pemantauan gizi anak balita serta ibu hamil
- Optimalisasi peran posyandu strata Purnama dan Madya, serta peningkatan cakupan imunisasi dan suplemen gizi kepada ibu hamil, terutama pada ibu remaja sebagai pencegahan dini
- Pembinaan bersama PKK sebagai mitra kerja strategis, membantu edukasi keluarga dan pemberian makanan tambahan di wilayah rawan stunting
Selain itu, pemerintah Bukittinggi mengalokasikan Bantuan DAK senilai Rp1,4 miliar yang diserahkan di Balai Kota untuk mempercepat intervensi gizi dan pembangunan keluarga berkualitas
Komitmen Nyata dari Wali Kota dan Stakeholder Lokal
Wali Kota Ramlan Nurmatias menegaskan, percepatan penurunan stunting tidak sekadar laporan; langkah ini harus bersifat konkret di lapangan. Ia menyebut perlu anggaran fokus dan aksi nyata agar target itu tercapai sesuai standar nasional
Sementara itu, Pjs TP PKK Bukittinggi menjelaskan dampak serius stunting, seperti hambatan perkembangan kognitif, motorik, dan risiko penyakit metabolik di masa dewasa. Ia menekankan bahwa penanganannya membutuhkan energi bersama komunitas, edukasi keluarga, dan pusat layanan masyarakat
Dampak Positif dan Tantangan di Lapangan
Upaya terkoordinasi ini berdampak nyata: prevalensi stunting yang sudah menurun drastis, dari survei SSGI Bukittinggi tahun 2021 sebesar 19% menjadi 16,8% pada 2022, hingga stabil di angka ~10,3% pada 2024
Namun tantangan masih muncul: literasi gizi masyarakat, akses layanan di posyandu padat penduduk, serta kondisi keluarga rentan seperti di Kelurahan Aur Kuning dan Aur Tajungkang yang ditemukan kasus stunting berat pada bayi usia 10–18 bulan
Bukittinggi juga menghadapi keterbatasan sanitasi dan air bersih yang memengaruhi status gizi anak, sebagaimana tercantum dalam profil anak dan gender kota tahun 2023
Sejarah, Kebijakan, dan Visi Jangka Panjang
Kota Bukittinggi sejak tahun 2021 telah menetapkan Perda RPJMD Nomor 4 Tahun 2021 dengan target stunting turun dari 14,1% (2021) menjadi 10% pada 2026. Keputusan Walikota telah meluncurkan Tim Percepatan Penurunan Stunting dan menetapkan kelurahan fokus intervensi terintegrasi setiap tahun
RPJMN nasional menargetkan penurunan stunting hingga di bawah 14% sebelum 2024, dengan fokus pembangunan sumber daya manusia unggul. Bukittinggi mampu merespons dengan data digital, intervensi gizi dan kesehatan, serta kolaborasi multi-lini antara pemerintah, komunitas, dan keluarga.
Pengaruh dan Inspirasi bagi Generasi Kini
Penanganan stunting di Bukittinggi membuka peluang bagi generasi muda—terutama perempuan dan keluarga—untuk memahami pentingnya gizi sejak dini, pemberdayaan perempuan, serta keterlibatan aktif dalam posyandu dan kader kesehatan lokal.
Protokol pencegahan seperti intervensi gizi ibu hamil, edukasi remaja, dan keterlibatan keluarga memperkuat kesadaran komunitas bahwa pertumbuhan anak adalah investasi masa depan bangsa. Generasi jovens yang terlibat sejak sekarang berarti lanskap kesehatan dan kualitas manusia di Bukittinggi semakin kuat dan produktif.
Tokoh seperti Wali Kota Ramlan Nurmatias dan tokoh perempuan di TP PKK menjadi simbol komitmen lokal yang berpihak pada kualitas hidup anak dan keluarga.
Pesan Inspiratif untuk Pembaca Muda
Bangun masa depan dengan memberi nilai lebih pada kesehatan generasi penerus. Ayo berperan aktif dalam program-program kesehatan-anak di lingkungan sekitar—dari posyandu hingga gerakan sadar gizi. Kita semua memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan nyata dalam keluarga dan masyarakat. Bersama, wujudkan Bukittinggi bebas stunting dan generasi sehat berkualitas!








