Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan menjamurnya kedai kopi kekinian, terdapat sosok-sosok yang tetap setia menjaga tradisi ngopi ala Minangkabau di Bukittinggi. Mereka adalah penjaga lapau, warung kopi tradisional yang menjadi pusat interaksi sosial masyarakat. Salah satu tokoh legendaris di balik lapau ini adalah Mak Itam, yang telah mengabdikan hidupnya untuk menyajikan kopi khas Bukittinggi selama lebih dari empat dekade.
Lapau: Lebih dari Sekadar Warung Kopi
Dalam budaya Minangkabau, lapau bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi. Ia adalah ruang diskusi, tempat bertukar informasi, dan pusat kehidupan sosial masyarakat. Menurut Kompas.id, lapau berperan sebagai wadah pertukaran informasi bagi masyarakat Minangkabau. Pada masa lampau, masyarakat yang tidak bisa membaca berkumpul di lapau untuk mendengarkan surat kabar dibacakan.
Tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun silam, bahkan sebelum Belanda masuk ke daratan Sumatera Barat. Konon, tradisi bercerita dan membentang kabar di ruang lapau sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Minangkabau.
Mak Itam: Penjaga Tradisi Kopi Bukittinggi
Mak Itam, yang kini berusia 68 tahun, telah menjalankan lapau kecilnya di kawasan Pasar Atas Bukittinggi sejak tahun 1980-an. Dengan tangan terampil, ia menyeduh kopi tubruk khas Bukittinggi yang dikenal dengan aroma kuat dan rasa pahit yang seimbang. Kopi yang digunakan berasal dari Bukik Apik, daerah penghasil kopi Arabika berkualitas tinggi di Sumatera Barat.
“Saya mulai usaha penggilingan kopi sejak Agustus 2017 setelah berhenti bekerja sebagai penjual koran,” ujar Almaizar, salah seorang pelaku usaha kopi Bukik Apik.
Mak Itam tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga menyediakan berbagai camilan tradisional seperti ketan kelapa dan pisang goreng. Lapau miliknya menjadi tempat berkumpul bagi berbagai kalangan, mulai dari petani, pedagang, hingga mahasiswa.
Lapau dalam Arus Modernisasi
Meskipun lapau memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat, modernisasi dan perubahan gaya hidup mulai mempengaruhi eksistensinya. Menurut Eviindrawanto.com, aktivitas berlapau sedang sekarat. Pasalnya, siapa yang bisa membantah bahwa main domino dengan taruhan dianggap tidak “baampok” (berjudi)?
Namun, bagi Mak Itam dan beberapa penjaga lapau lainnya, semangat untuk mempertahankan tradisi tetap menyala. Mereka beradaptasi dengan menyediakan Wi-Fi gratis dan memperkenalkan varian kopi baru untuk menarik minat generasi muda.
Kopi Bukik Apik: Warisan Rasa dari Ngarai Sianok
Kopi Bukik Apik, yang menjadi andalan lapau Mak Itam, memiliki sejarah panjang. Menurut Pasbana.com, kopi pertama kali ditanam di Sumatera Barat pada tahun 1718 oleh seorang Belanda bernama Abraham van den Broek di daerah Agam. Kopi ini kemudian dikenal sebagai Kopi Minangkabau.
Kopi Arabika dari Bukik Apik ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian 1.000-2.000 meter di atas permukaan laut. Kopi ini terkenal dengan aroma dan rasanya yang khas, dengan tingkat keasaman yang rendah dan rasa pahit yang seimbang.
Lapau sebagai Pusat Ekonomi Kerakyatan
Lapau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ngopi, tetapi juga sebagai pusat ekonomi kerakyatan. Menurut Kompas.id, lapau merupakan warisan sejarah dalam ekonomi kerakyatan di Sumatera Barat. Dahulu, lapau identik dengan warung sederhana yang menjual kebutuhan sehari-hari. Pemilik lapau biasanya juga menyediakan makanan khas buatan sendiri untuk dijual.
Dengan keberadaan lapau, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus pergi jauh. Selain itu, lapau juga menjadi tempat bagi para pelaku usaha kecil untuk memasarkan produk mereka.
Menjaga Warisan Budaya untuk Generasi Mendatang
Mak Itam dan penjaga lapau lainnya di Bukittinggi adalah penjaga warisan budaya yang tak ternilai. Mereka menjaga tradisi ngopi ala Minangkabau tetap hidup di tengah arus modernisasi. Dengan semangat dan dedikasi, mereka memastikan bahwa lapau tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat Bukittinggi.
Bagi generasi muda, mengenal dan menghargai lapau adalah langkah awal untuk memahami kekayaan budaya Minangkabau. Melalui lapau, mereka dapat belajar tentang nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan pentingnya menjaga tradisi.








